Hujan menggigil di lembah terpencil itu, persis seperti kenangan yang menusuk jantung Lianhua. Setiap tetesnya seolah mencerminkan air mata yang pernah ia tumpahkan, air mata karena cinta yang dikhianati, air mata karena janji yang dipatahkan. Lima belas tahun telah berlalu sejak malam itu, malam ketika pedang Yuanfeng, yang seharusnya menjadi saksi cinta mereka, justru menjadi saksi bisu pengkhianatan Yuze.
Lianhua menatap lentera di tangannya. Cahayanya nyaris padam, berjuang melawan angin malam. Sama seperti hatinya, yang dahulu dipenuhi kehangatan, kini hanya tersisa bara redup yang menyimpan dendam.
Di seberang lembah, sosok Yuze muncul dari balik kabut. Wajahnya yang dulu tampan kini dipenuhi kerutan, mata yang dulu berbinar cinta kini dipenuhi penyesalan. Dia memanggil nama Lianhua dengan suara serak.
"Lianhua... sudah lama sekali."
Lianhua tidak menjawab. Ia hanya menggenggam erat pedang pusakanya, Pedang Malam. Dulu, Yuze selalu memujinya sebagai pedang yang 'mengenali luka lama'. Sekarang, pedang itu akan MEMBALASKANNYA.
"Aku tahu... aku tahu aku salah. Aku tahu aku telah menghancurkan segalanya," lanjut Yuze, suaranya bergetar. "Tapi kumohon, Lianhua, berilah aku kesempatan untuk menebusnya."
Lianhua tersenyum pahit. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Menebus? Dengan apa? Dengan janji palsu lainnya?"
Bayangan mereka menari-nari di tanah yang basah. Bayangan yang patah, terpisah oleh jurang pengkhianatan yang tak terperi.
"Kau tidak mengerti, Lianhua! Aku terpaksa! Mereka... mereka mengancam nyawaku!"
"Nyawamu?" Lianhua tertawa sinis. "Dan bagaimana dengan nyawaku? Bagaimana dengan hatiku? Apakah itu tidak berarti apa-apa bagimu?"
Lianhua melangkah maju, pedang Malam berkilauan di bawah cahaya lentera yang sekarat. "Kau tahu, Yuze, setiap malam aku bermimpi tentang hari ini. Hari di mana aku bisa membalas sakit hatiku. Hari di mana Pedang Malam ini akan mengenali luka lama yang kau torehkan."
Yuze mundur ketakutan. "Lianhua... jangan lakukan ini! Kita bisa membicarakan ini!"
Lianhua mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Angin bergemuruh, membawa aroma kematian dan kesedihan. "Terlalu lama aku menunggu, Yuze. Terlalu lama aku menderita dalam diam. Sekarang... giliranku."
Saat pedang Malam menebas udara, menerjang ke arah Yuze, Lianhua berbisik, "Kau tidak akan pernah tahu alasan sebenarnya aku kembali... karena bukan hanya pengkhianatanmu yang ingin kubalas, tapi juga... darah Ayahku yang mengalir di tanganmu!"
You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Rahasia Yang Ditanam
0 Comments: