Oke, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya** Aroma dupa cend...

Dracin Seru: Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya Dracin Seru: Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya

Dracin Seru: Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya

Dracin Seru: Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya

Oke, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya** Aroma dupa cendana menyengat hidung Bai Lian. Setiap hari, kedai teh kecilnya dipenuhi aroma itu, aroma yang sama yang selalu menguar dari jubah sutra *dia*... orang yang tak seharusnya ia ingat. Ia memejamkan mata, berusaha mengusir bayangan wajah tampan yang kini buram itu. Dulu, di kehidupan *sebelumnya*, ia adalah Putri Lian, pewaris tahta yang dicintai rakyatnya. Sementara orang itu... adalah Jenderal Lin, pahlawan perang yang gagah berani, yang ia cintai dengan segenap jiwa. Cinta mereka terlarang, berbahaya, seperti bunga opium yang memabukkan. Namun, justru karena itulah cinta itu begitu menggoda. Namun, di malam bulan purnama, Jenderal Lin menusuknya dari belakang. Bukan dengan pedang, melainkan dengan pengkhianatan. Ia bersekongkol dengan pemberontak, menjungkirbalikkan dinasti, dan menikahi permaisuri pemberontak itu sendiri. Sebelum ia menghembuskan nafas terakhir, Putri Lian bersumpah akan membalas dendam. Kini, terlahir kembali sebagai pemilik kedai teh sederhana, Bai Lian mencoba melupakan segalanya. Namun, takdir punya cara aneh untuk mempertemukan kembali benang-benang karma. Suatu sore, seorang pria memasuki kedainya. Bukan pria biasa. Tatapan matanya... **Mata** itu, ia mengenalinya. Itu adalah mata Jenderal Lin. Namun, pria ini bernama Wei Jun, seorang penulis muda yang sedang mencari inspirasi. Setiap hari, Wei Jun datang ke kedai, memesan teh melati, dan menulis. Ia menulis surat. Surat-surat yang tak pernah ia kirimkan. Bai Lian seringkali melihat Wei Jun membakar surat-surat itu di tungku kecil di sudut kedai. Setiap kali, hatinya berdenyut sakit. *Kau menulis surat padaku, tapi membakarnya sebelum kukenal tintanya*. Semakin sering ia melihat Wei Jun, semakin jelas pula ingatan akan pengkhianatan itu kembali. Fragmen-fragmen masa lalu berkelebat dalam benaknya: senyum licik, bisikan mesra yang palsu, pedang yang terhunus di kegelapan malam. Lalu, suatu hari, Wei Jun menceritakan mimpinya. Mimpi tentang seorang putri yang dikhianati seorang jenderal. Mimpi yang begitu nyata, begitu **HIDUP**, hingga membuatnya ketakutan. "Aku merasa bersalah, Nona Bai," ucap Wei Jun, wajahnya pucat. "Aku merasa... aku pernah melakukan hal mengerikan di kehidupan sebelumnya." Bai Lian menatapnya tajam. Ia tahu, kini Wei Jun mulai mengingat. Ingatan itu akan menghantuinya, menggerogoti jiwanya perlahan-lahan. Itu adalah balas dendam yang paling manis. Ia tidak perlu membunuh Wei Jun. Ia hanya perlu membiarkannya hidup dengan beban pengkhianatan itu. Suatu hari, Wei Jun menyerahkan sebuah surat padanya. Bukan surat yang dibakar. Surat yang ditujukan langsung padanya. Di dalamnya, Wei Jun mengakui segalanya. Mengakui pengkhianatannya di masa lalu, mengakui penyesalannya yang mendalam. Ia meminta maaf. Ia memohon ampun. Bai Lian membaca surat itu tanpa ekspresi. Ia tahu, permintaan maaf ini tulus. Namun, itu tidak mengubah apa pun. Takdirnya telah berubah. Ia tidak lagi Putri Lian yang bodoh dan jatuh cinta. Ia adalah Bai Lian, pemilik kedai teh yang bebas. Dengan tenang, ia merobek surat itu menjadi serpihan kecil. Ia lalu menyerahkan secangkir teh melati pada Wei Jun. "Teh Anda sudah siap, Tuan Wei," ucapnya, suaranya dingin. Wei Jun menunduk, menerima cangkir teh itu. Ia tahu, ini adalah akhir. Bukan akhir dari hidupnya, melainkan akhir dari harapannya. Bai Lian memutuskan untuk meninggalkan kedai teh itu. Ia ingin memulai hidup baru di tempat yang jauh, di mana bayangan masa lalu tidak akan mengejarnya. Sebelum pergi, ia menulis sepucuk surat, meletakkannya di atas meja, dan membakarnya setengah. Ia tahu, Wei Jun akan menemukan surat itu. Ia tahu, ia akan menghabiskan sisa hidupnya mencoba menebak apa yang tertulis di dalamnya. Ia tersenyum tipis. Dendam terbalaskan. Bukan dengan darah, melainkan dengan kebebasan. Meninggalkan kedai teh yang dipenuhi aroma dupa cendana, Bai Lian berjalan menuju cakrawala, meninggalkan Wei Jun yang terperangkap dalam labirin penyesalan. Aku akan menunggumu di kehidupan selanjutnya, bukan sebagai korban, melainkan sebagai **HAKIMMU**...
You Might Also Like: Arti Mimpi Melihat Tupai Wajib Kamu Tahu

0 Comments: