Baiklah, ini dia kisah dracin tragis berjudul 'Janji yang Kulepaskan Dengan Pasrah': **Janji yang Kulepaskan Dengan Pasrah** Bulan sabit menggantung di langit malam Kota Chang'an, sama persis seperti malam itu, belasan tahun lalu. Di bawah cahaya rembulan yang sama, terjalin sumpah persaudaraan antara aku, Li Wei, dan dia, Zhang Jiao. Dua anak yatim piatu yang saling menemukan di jalanan, berjanji akan saling melindungi sampai akhir hayat. "Wei, ingatlah," bisiknya kala itu, matanya berbinar tertimpa cahaya bintang. "Kita adalah saudara. Tidak ada yang boleh memisahkan kita." Aku mengangguk, menggenggam erat tangannya yang kecil. Sebuah janji terukir di relung hati, sebuah janji yang kini terasa seperti duri beracun. Waktu berlalu. Kami tumbuh bersama, berlatih pedang di bawah bimbingan Guru Zhao. Aku, dengan ketangkasan dan naluri alami. Dia, dengan kecerdasan dan strategi yang tak tertandingi. Kami menjadi duo yang ditakuti sekaligus disegani. Ketenaran kami menyebar bagai api di padang rumput. Kaisar pun memanggil kami untuk mengabdi di istana. Di sana, di antara intrik dan pengkhianatan, aku semakin menyadari betapa *berbedanya* kami. Aku yang lugu, yang hanya ingin membela kebenaran. Sementara dia…dia haus akan kekuasaan. "Wei, jangan naif," ucapnya suatu malam, saat kami berdiri di balkon istana, memandang hamparan kota di bawah. "Kebenaran hanyalah ilusi. Kekuatan adalah segalanya." Senyumnya tipis, dingin, *asing*. Aku mulai melihat retakan dalam janji kami. Retakan yang semakin lebar seiring dengan ambisinya yang membara. Aku melihatnya bersekongkol dengan para kasim licik, menjilat para bangsawan korup. Aku melihatnya mengkhianati mereka yang pernah mempercayainya. Namun, aku masih berharap. Berharap bahwa di balik topeng kekejamannya, masih ada Zhang Jiao, saudara yang dulu pernah kumiliki. Suatu hari, Kaisar memanggil kami berdua. "Zhang Jiao, Li Wei," sabdanya, suaranya berat. "Aku telah menerima laporan tentang pengkhianatan di istana. Aku menugaskan kalian berdua untuk menyelidikinya. Cari tahu siapa dalang di balik semua ini." Pandanganku bertemu dengan mata Zhang Jiao. Di sana, aku melihat sesuatu yang mengerikan: rasa bersalah yang tersembunyi di balik lapisan kebohongan. Malam itu, aku menyelinap ke kamarnya. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. Di balik rak buku, aku menemukan sebuah gulungan. Tulisannya rapi, familiar. Itu adalah surat perintah dari *Zhang Jiao* sendiri, memerintahkan pembunuhan terhadap seorang jenderal setia yang menentang ambisi para kasim. Jantungku serasa diremas. *Jadi, kaulah pengkhianatnya.* Saat aku berbalik, Zhang Jiao berdiri di ambang pintu. Di tangannya, sebilah pedang berkilauan. "Wei…" lirihnya, suaranya tercekat. "Aku bisa menjelaskannya." "Tidak ada yang perlu dijelaskan," jawabku dingin, menarik pedangku sendiri. "Kau telah melanggar janji kita. Kau telah mengkhianati segalanya yang kita perjuangkan." Pertarungan pun dimulai. Di bawah rembulan yang pucat, dua saudara, dua sahabat, saling beradu pedang. Setiap ayunan pedang adalah cacian, setiap tebasan adalah pengkhianatan yang terungkap. "Kenapa, Jiao? Kenapa kau melakukan ini?" tanyaku, terengah-engah. "Karena aku menginginkan kekuasaan!" teriaknya, matanya berkilat liar. "Aku tidak ingin menjadi orang lemah seperti kita dulu! Aku ingin mengubah dunia!" "Dengan mengorbankan segalanya? Dengan mengkhianati orang-orang yang kau cintai?" Dia terdiam. Pedangnya gemetar. "Aku…aku tidak punya pilihan." Aku tersenyum pahit. "Kau *selalu* punya pilihan." Dengan satu gerakan cepat, aku menikamkan pedangku ke dadanya. Dia tersentak, darah memuncrat dari mulutnya. Dia menatapku, *terkejut*, *kecewa*. "Kau…" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Kau seharusnya…bergabung denganku…" Dia jatuh. Aku berlutut di sampingnya, air mata mengalir di pipiku. Janji itu…hancur berkeping-keping. Pengkhianatan terungkap. Kebenaran menyakitkan terkuak. Balas dendam terbalaskan. Tapi di lubuk hatiku, hanya ada kehampaan yang tak terhingga. *** Beberapa hari kemudian, aku menghadap Kaisar. Aku menyerahkan bukti pengkhianatan Zhang Jiao dan para kasim. Mereka semua dihukum mati. Aku, sebaliknya, dipuji sebagai pahlawan. Tapi aku tidak merasakan kebahagiaan. Yang kurasakan hanyalah penyesalan. Aku meninggalkan istana, meninggalkan Kota Chang'an. Aku tidak tahu kemana aku akan pergi. Yang aku tahu hanyalah, aku tidak bisa lagi hidup dengan beban ini. Aku duduk di tepi jurang, menatap hamparan langit malam. Rembulan sabit masih di sana, menyaksikan kesedihanku. Di bibirku, terucap sebuah kalimat, pengakuan terakhir sebelum kematian: "Seandainya saja, Jiao, seandainya saja aku bisa membencimu..."
You Might Also Like: 191 Tutorial Skincare Lokal Cocok

0 Comments: