## Aku Menatap Foto Lama, dan Sadar Senyum Kita Dulu Hanyalah Topeng Debu menari-nari di udara senja, menerobos masuk melalui celah tirai. S...

Drama Seru: Aku Menatap Foto Lama, Dan Sadar Senyum Kita Dulu Hanyalah Topeng Drama Seru: Aku Menatap Foto Lama, Dan Sadar Senyum Kita Dulu Hanyalah Topeng

Drama Seru: Aku Menatap Foto Lama, Dan Sadar Senyum Kita Dulu Hanyalah Topeng

Drama Seru: Aku Menatap Foto Lama, Dan Sadar Senyum Kita Dulu Hanyalah Topeng

## Aku Menatap Foto Lama, dan Sadar Senyum Kita Dulu Hanyalah Topeng Debu menari-nari di udara senja, menerobos masuk melalui celah tirai. Sinar itu jatuh tepat di atas foto usang yang tergenggam di tanganku. Wajahku dan wajah *dia*. Di foto itu, senyum kami merekah sempurna, bagai bunga sakura di musim semi. Tapi, seiring waktu dan air mata yang tumpah, aku **SADAR**, senyum itu hanyalah topeng. Malam itu, hujan mengguyur kota dengan amukan yang sama seperti badai di hatiku sekarang. Malam itu, di bawah rembulan pucat yang mengintip di antara awan kelabu, *dia* berjanji. Janji yang diukir dengan tinta abadi di hatiku, janji yang kini terasa bagai pisau yang berputar-putar. "Aku akan selalu mencintaimu, Mei Lan," bisiknya, bibirnya menyentuh rambutku yang basah. "Selamanya." Selamanya? Kata itu kini terdengar bagai lelucon yang kejam. Selamanya yang hanya bertahan satu musim gugur. Selamanya yang dia hancurkan dengan begitu mudahnya, demi ambisi dan tahta. Aku ingat saat pertama kali mendengar kabar pernikahannya. Seperti kaca yang dihempaskan ke lantai, hatiku hancur berkeping-keping. Aku menangis, meratap, dan menyalahkan takdir. Tapi, lama kelamaan, kemarahan mulai menyala, menggantikan kesedihan yang mendalam. Bertahun-tahun berlalu. Aku membangun kerajaan sendiri, kekuatan yang dia remehkan. Dia, Pangeran Li Wei yang dulunya adalah segalanya bagiku, kini hanyalah nama di lembaran sejarah yang akan aku tulis ulang. Aku tidak mencari *cinta*, aku tidak mencari *pengampunan*. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Kepedihan yang menusuk, kehampaan yang tak berujung. Kudengar, kerajaannya dilanda krisis. Para bangsawan saling berebut kekuasaan. Rakyatnya menderita. Aku tidak secara langsung terlibat. Aku hanya, *membiarkan* takdir bekerja. Hari ini, kudengar lagi, Pangeran Li Wei jatuh sakit. Sakit parah. Para tabib istana angkat tangan. Dia, Pangeran Li Wei yang dulu gagah perkasa, kini terbaring lemah tak berdaya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak tahu apakah hatiku akan terisi oleh kepuasan atau justru kekosongan yang lebih dalam. Namun, ada satu hal yang aku tahu pasti: **Karma itu ada.** Dan terkadang, karma datang dengan wajah seorang wanita yang pernah mencintaimu, yang senyumnya dulu kau hancurkan dengan begitu **KEJAM**. _Apakah ini cinta yang tersisa, atau dendam yang tak terpuaskan?_
You Might Also Like: 5 Rahasia Arti Mimpi Membunuh Gurita

0 Comments: