Hujan menggigil di atap Paviliun Anggrek, menirukan getar di dadaku. Lima tahun. Lima tahun berlalu sejak malam pengkhianatan itu. Aroma dupa cendana yang dulu menenangkan, kini terasa pahit, menusuk tenggorokanku. Dia berdiri di ambang pintu, sosoknya hanya siluet yang diterangi cahaya lentera yang redup. **LI Yan**. Namanya masih terasa seperti duri yang berkarat, menggores setiap kali terlintas di benakku. Dulu, matanya sehangat mentari pagi. Sekarang, hanya ada kekosongan yang menusuk. "Aku tidak membutuhkan bantuanmu," ucapku dingin, mencoba menyembunyikan gemetar dalam suaraku. "Aku hanya ingin membantumu membayar hutang-hutangmu," jawabnya, suaranya rendah, seolah takut memecah kesunyian yang mencekam. "Kau menolak bayaran tambahan, padahal aku ingin membayar dengan cintaku," gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Cinta? Kata itu terasa seperti lelucon yang kejam. Cinta macam apa yang memungkiri janji, yang mengkhianati kepercayaan? Cinta macam apa yang meninggalkanku terpuruk dalam kegelapan? Bayangan kami berdua di dinding, **PATAH** dan terdistorsi, seolah mencerminkan masa lalu yang hancur. Dulu, kami adalah satu, saling melengkapi, saling menguatkan. Sekarang, kami adalah dua bayangan yang saling menjauhi, dipisahkan oleh jurang yang tak terlewati. Dia menyodorkan kantung berisi koin perak. "Ambillah. Anggap saja ini sebagai penebusan dosa." "Penebusan dosa?" Aku tertawa sinis. "Apakah kau pikir uang bisa menghapus semua yang telah kau lakukan? Apakah kau pikir kau bisa membeli maafku?" Aku mengambil kantung itu, merasakan beratnya di tanganku. Bukan berat koin perak, melainkan berat kenangan, berat pengkhianatan. "Aku tidak akan memaafkanmu," bisikku, mata kami bertemu dalam kegelapan. "Aku akan membuatmu merasakan apa yang kurasakan selama ini. Penderitaanmu baru saja dimulai." Dia menatapku, ekspresinya sulit dibaca. Apakah itu rasa bersalah? Atau ketakutan? "Semua ini... semua hutang-hutangku... aku tahu kau yang mengaturnya, bukan?" Dia terdiam. Aku tersenyum. Cahaya lentera yang nyaris padam memantulkan kilatan di mataku. *Semua ini adalah bagian dari rencanaku, Li Yan. Karena ternyata, kebenaran tentang malam itu jauh lebih mengerikan dari yang kau bayangkan, dan melibatkan orang yang paling dekat denganmu selama ini...*
You Might Also Like: Unlock Power Of Antifungals

0 Comments: