**Senyum yang Menyimpan Nama Musuh** Kabut menggantung di puncak Gunung Cangshan, menyelimuti kuil tua yang terlupakan. Sunyi. Sepi. Hanya suara angin yang berbisik, membawa cerita lama yang pahit. Di dalam kuil, di bawah cahaya redup lilin, duduk seorang pria. Wajahnya halus, nyaris tanpa kerutan, meski matanya menyimpan kedalaman samudera yang gelap. Dia adalah Lian, yang seharusnya sudah lama mati – tenggelam dalam badai di Laut Timur, sepuluh tahun lalu. Di hadapannya berdiri seorang wanita, permaisuri saat ini, Wei. Gaun sutranya berwarna giok, anggun dan mahal. Namun, sorot matanya mencerminkan kegelisahan yang mendalam. "Lian," bisik Wei, suaranya nyaris tak terdengar. "Kau kembali." Lian tersenyum. Senyum yang familiar, senyum yang dulu membuat jantung Wei berdebar. Namun, senyum itu kini terasa asing, dingin, dan penuh perhitungan. "Permaisuri Wei, kau tahu aku akan kembali. Pertanyaan sebenarnya adalah, *mengapa*." Ruangan itu terasa semakin dingin. Aroma dupa bercampur dengan bau tanah lembab, menciptakan suasana mencekam. Wei menggigit bibirnya. "Mereka bilang kau mati. Tenggelam." "Laut memang ganas," jawab Lian dengan nada datar. "Tapi tidak cukup ganas untuk membungkam dendam." Ia bangkit, berjalan perlahan mendekati Wei. Setiap langkahnya menggema di keheningan kuil, seperti dentuman genderang perang. "Sepuluh tahun," desis Lian, matanya menatap tajam Wei. "Sepuluh tahun aku merencanakan ini. Mengumpulkan setiap keping informasi, setiap kebohongan yang kau sembunyikan." Wei mundur selangkah. "Aku... aku tidak mengerti." Lian tertawa pelan, tawa yang membuat bulu kuduk Wei meremang. "Tidak mengerti? Sungguh? Bagaimana dengan malam saat Pangeran Mahkota ditemukan tewas di taman istana? Bagaimana dengan surat wasiat Kaisar yang tiba-tiba menghilang?" "Itu... itu kecelakaan! Fitnah!" Wei membantah, meski suaranya bergetar. Lian berhenti tepat di depannya. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Wei dengan lembut. Sentuhan yang membuat Wei tersentak. "Senyummu indah, Wei. Senyum yang menipu seluruh kekaisaran. Senyum yang menyembunyikan seorang **PEMBUNUH**." Wei terisak. Ia tahu, semuanya sudah berakhir. "Aku memang korban," lanjut Lian, suaranya kini bagai belati yang menusuk jantung Wei. "Korban *sandiwara*mu. Tapi aku bukan lagi Lian yang lemah dan bodoh. Aku sekarang adalah arsitek dari kehancuranmu." Ia mundur, matanya berkilat puas. "Dulu, aku ingin membalas dendam. Sekarang... aku hanya ingin melihatmu *menderita*." Lian berbalik, berjalan menuju pintu kuil, menghilang ditelan kabut. Wei terhuyung, jatuh berlutut. Ia menatap tangan Lian yang tadi menyentuhnya. Di tangannya, tertinggal sebuah jepit rambut perak, jepit rambut milik Wei, dengan ukiran naga yang sangat familiar. Ukiran yang sama persis dengan yang ditemukan di TKP pembunuhan Pangeran Mahkota, sepuluh tahun lalu. Dan di saat itulah, Wei menyadari... bahwa *dialah* yang dijebak, dari awal. Bahwa senyum Lian, selama ini, memang menyimpan nama musuh. Bukan nama orang yang ia bunuh, tapi nama orang yang *menghancurkannya*. Malam itu, permaisuri Wei ditemukan tewas di kuil Gunung Cangshan, jepit rambut perak di genggamannya. Penyebab kematian? **Misteri**. Dan di kejauhan, di balik kabut pegunungan, Lian tersenyum. Kali ini, senyum itu benar-benar menakutkan. Karena senyum itu bukan lagi senyum dendam, tapi senyum seorang **Kaisar**.
You Might Also Like: Filipino Women Why Are They Perfect For

0 Comments: