## Kau Melangkah Menjauh dari Sekte, dan Aku Tinggal Menatap Punggungmu dengan Bangga Sekaligus Hancur. Debu *emas* menari di antara pilar-p...

TOP! Kau Melangkah Menjauh Dari Sekte, Dan Aku Tinggal Menatap Punggungmu Dengan Bangga Sekaligus Hancur TOP! Kau Melangkah Menjauh Dari Sekte, Dan Aku Tinggal Menatap Punggungmu Dengan Bangga Sekaligus Hancur

TOP! Kau Melangkah Menjauh Dari Sekte, Dan Aku Tinggal Menatap Punggungmu Dengan Bangga Sekaligus Hancur

TOP! Kau Melangkah Menjauh Dari Sekte, Dan Aku Tinggal Menatap Punggungmu Dengan Bangga Sekaligus Hancur

## Kau Melangkah Menjauh dari Sekte, dan Aku Tinggal Menatap Punggungmu dengan Bangga Sekaligus Hancur. Debu *emas* menari di antara pilar-pilar Jade Cloud Pavilion. Aroma dupa cendana berpadu dengan aroma darah yang samar. Aku, Yue Lian, berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya yang semakin menjauh. Wei Xing, murid paling berbakat di sekte, berjalan menuju gerbang dunia fana. Dulu, sangat dulu, di kehidupanku yang pertama, aku adalah Jenderal Besar Yue, setia pada Kaisar Wei. Kaisar yang muda, ambisius, dan… *dikhianati* oleh orang kepercayaannya. Pengkhianatan yang membuat kerajaanku runtuh, dan jiwaku terpecah. Butuh ribuan tahun untuk menyatukan serpihan-serpihan itu kembali. Dan kini, di kehidupan kedua ini, Wei Xing adalah Kaisar Wei reinkarnasi, dan aku, Yue Lian, adalah *gurunya*. Hatiku berdebar keras. Bangga, karena dia akhirnya memilih jalannya sendiri, bebas dari belenggu sekte yang mengekang. Hancur, karena jalan itu membawanya menjauh dariku. "Wei Xing!" Seruku, suara yang lebih serak dari yang kubayangkan. Dia berhenti, bahunya menegang, tapi dia tidak berbalik. "Guru," jawabnya, suara yang menyimpan lautan emosi yang tak terucapkan. "Aku akan menciptakan dunia yang lebih baik. Dunia tanpa aturan-aturan kuno yang membelenggu, dunia tanpa hierarki yang mengekang." Aku mengerti. Di kedalaman matanya, aku melihat _kilasan_ kenangan. Istana yang terbakar, pedang di punggungku, dan wajah *Zhou Ming*. Zhou Ming, tangan kanan Kaisar Wei, dalang di balik pengkhianatan. Di kehidupan ini, dia adalah Master Ling, kepala sekte kita, pria yang berusaha mengendalikan Wei Xing dengan segala cara. Keinginan untuk balas dendam bergolak dalam diriku, tapi aku menahannya. Bukan balas dendam dengan pedang dan darah. Balas dendam yang *lebih halus*. Aku telah melatihnya. Aku telah memberinya kekuatan. Aku telah menanamkan nilai-nilai yang akan membimbingnya. Keputusannya untuk meninggalkan sekte adalah buah dari semua itu. Balas dendamku adalah _kesuksesannya_. "Pergilah, Wei Xing," ujarku, berusaha menahan air mata. "Ingatlah semua yang telah kupelajari padamu. Dan jangan biarkan kegelapan menguasai hatimu." Dia mengangguk tanpa berbalik, lalu melangkah melewati gerbang. Punggungnya semakin mengecil, menyatu dengan debu keemasan yang menari di bawah sinar matahari. Master Ling datang mendekat, wajahnya dipenuhi kemarahan yang dipaksakan. "Kau membiarkannya pergi? Kau membiarkan harta kita lepas?" Aku menatapnya, dingin dan tanpa ampun. "Dia bukan harta. Dia adalah *masa depan*." Dia mendengus, jelas tidak mengerti. Tapi dia akan mengerti nanti, ketika dunia yang diciptakan Wei Xing membuktikan bahwa cara-cara kuno tidak lagi relevan. Dia akan mengerti bahwa *kekuatanku* terletak bukan pada menahan Wei Xing, melainkan pada membiarkannya pergi. Aku berbalik, meninggalkan Jade Cloud Pavilion. Aku tahu, dalam hatiku yang paling dalam, bahwa ini bukanlah perpisahan. Takdir memiliki cara yang aneh untuk mempertemukan kembali jiwa-jiwa yang terikat. Namun sebelum aku pergi jauh, aku menoleh kembali. Wei Xing sudah tidak terlihat lagi. Tapi bayangannya tetap melekat di mataku. *Aku akan menunggumu, bahkan jika itu membutuhkan seribu tahun lagi.*
You Might Also Like: Funeral Border Vector Art Icons And

0 Comments: