Baiklah, ini adalah kisah Dracin berjudul "Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis", dengan sentuhan yang Anda inginkan: **Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis** Hujan. Selalu hujan di makam ini. BUKAN air yang membasahi nisan, melainkan air mata yang tak pernah kering. Aku berdiri di sini, **tanpa wujud namun terasa**, menyaksikan *bayanganku* sendiri yang menolak pergi, terikat pada tanah yang menelan ragaku. Dulu, aku adalah Lin. Sekarang, aku hanyalah... *eror*. Sebuah gangguan dalam arus kehidupan, sebuah *kesalahan* yang kembali menghantui. Aku mati dengan sebuah rahasia yang membatu di tenggorokan, sebuah kebenaran yang tak terucap, sebuah cinta yang tak tersampaikan. Dia datang. Setiap hari. Tangannya membelai nisan itu, matanya redup seperti senja yang terlupakan. Dia, *Mei*, adalah alasan mengapa aku kembali. Bukan untuk balas dendam, meski dendam itu membara dalam kedinginan alam baka. Bukan untuk menuntut keadilan, meski keadilan itu terasa begitu jauh. Aku ingin melihatnya tersenyum. Sekali saja. Dulu, aku adalah seorang ilmuwan muda yang bekerja di sebuah perusahaan teknologi. Mei adalah rekan kerjaku, belahan jiwaku. Namun, persaingan dan ambisi membutakan mataku. Aku *mengkhianatinya*, mencuri idenya, dan membiarkannya menanggung akibatnya. Dia dipecat, dan aku... aku diam saja. Kecelakaan itu *merenggut nyawaku* sebelum aku sempat meminta maaf. Sekarang, aku di sini, *menjadi hantu*, merasakan penyesalan yang meremukkan tulang-tulang yang sudah menjadi debu. Aku mencoba berkomunikasi. Berbisik di telinganya saat angin bertiup. Menggerakkan dedaunan di sekitarnya saat dia berdiri di sana. Namun, dia tidak mendengarku. Dia tidak melihatku. Aku hanyalah *kegelapan* di tepian matanya. Suatu malam, saat hujan turun semakin deras, dia berbicara. Suaranya serak, penuh kepedihan. "Lin," bisiknya, "mengapa kamu pergi? Mengapa kamu meninggalkan aku dengan semua ini?" Hatiku—jika aku masih punya—*hancur*. Aku mencoba menyentuhnya, mengulurkan tangan yang tidak ada. Aku ingin mengatakan, "Mei, maafkan aku. Aku sangat menyesal." Namun, kata-kata itu tetap membatu di tenggorokanku. Aku kemudian menyadari. Aku tidak bisa memberikan kedamaian padanya jika aku tidak menemukan kedamaian dalam diriku sendiri. Aku harus melepaskan *penyesalan*, melepaskan *kemarahan*, melepaskan *cinta* yang tak tersampaikan. Aku harus membiarkannya pergi. Aku mulai mengumpulkan sisa-sisa kenangan baik kami. Tawa kami. Mimpi kami. Harapan kami. Aku membungkusnya dalam cahaya rembulan dan mengirimkannya kepadanya. Dan perlahan, sangat perlahan, aku melihat perubahan. Di matanya, ada setitik cahaya harapan. Di bibirnya, ada senyum tipis yang mulai bersemi. Aku *tidak bisa mengubah masa lalu*. Aku tidak bisa menghapus kesalahanku. Tapi, aku bisa *memberinya kedamaian*. Aku melihatnya mulai membangun kembali hidupnya. Dia menemukan pekerjaan baru, teman baru, bahkan... cinta baru? Aku tidak tahu. Dan itu tidak penting. Yang penting adalah, dia tidak lagi *menangis*. Aku sudah menyelesaikan tugasku. Aku sudah *menemukan kedamaian*. Saat mentari pagi menyentuh nisan itu, bayanganku perlahan menghilang. Hujan berhenti. Dan aku merasa... *ringan*. Mungkin, hanya mungkin, akhirnya aku bisa pergi. Saat aku berbalik, *aku merasa seperti dia memanggil namaku*. … dan mungkin, itulah yang selama ini kutunggu.
You Might Also Like: 7 Fakta Interpretasi Mimpi Masuk Rumah

0 Comments: