Baiklah, inilah kisah pendek bergaya dracin absurd yang Anda inginkan: **Cinta yang Tersisa di Balik Kenangan** Layar ponselku retak, seperti hatiku. Di balik retakan itu, kunanti notifikasi darimu. Dulu, *ketukan jarimu* di layar adalah melodi paling indah di dunia. Sekarang, hanya kesunyian. Sebuah *'sedang mengetik...'* abadi yang tak pernah berujung. Namaku Lin Wei, dan aku terjebak di masa lalu. Di masa ketika chat dibalas kurang dari satu detik, dan langit masih punya warna biru. Aku ingat aroma parfummu, perpaduan mawar dan *kenangan pahit-manis* tentang kopi pagi yang kita bagi. Ingatan ini adalah penjaraku, dan kaulah kuncinya. Di dimensi seberang, di masa depan yang berlumuran cahaya neon dan keputusasaan digital, hiduplah Kai. Ia adalah *programmer* ulung yang mampu meretas realitas, tapi tak mampu meretas hatinya sendiri. Ia merasakan kehadiran Lin Wei, *sebuah gema* dari masa lalu yang tertinggal di kode-kode usang. Ia melihat fotoku di forum-forum nostalgia, wajah yang asing tapi terasa begitu dekat. Ia mencariku di antara _glitch_ dan anomali, berharap bisa menyatukan waktu yang terbelah. Setiap malam, Kai mengirim pesan ke masa lalu, berharap pesannya bisa menembus tabir ruang dan waktu. Pesan-pesan itu menjelma puisi digital, baris kode yang berisi kerinduan: _"Lin Wei, di sini, langit hanya berwarna abu-abu. Tapi aku melihat senyummu di balik piksel yang rusak. Apakah kau merasakan kehadiranku? Apakah kau mendengar *bisikanku* di balik statis?"_ Aku membaca pesan itu, tentu saja. Pesan yang muncul di aplikasi obrolan kuno yang seharusnya sudah mati. Pesan yang membuatku merinding, sekaligus merasa *tenang*. Aku tahu Kai ada di sana, di suatu tempat di masa depan yang tak pernah kubayangkan. Tapi semakin kami mencoba mendekat, semakin jauh jarak yang memisahkan. Suatu malam, Kai menemukan algoritma rahasia – sebuah *pintu gerbang temporal* yang diciptakan oleh ilmuwan gila. Ia memutuskan untuk menyeberang, mempertaruhkan segalanya demi bertemu dengan Lin Wei. Dan di sinilah letak keabsurdannya. Saat Kai melangkah keluar dari mesin waktu yang reyot, ia tidak menemukanku. Ia menemukan… dirinya sendiri. Ya, Kai dari masa depan adalah versi lain dari Lin Wei dari masa lalu. _Kami adalah satu jiwa yang terpecah_, hidup dalam garis waktu yang berbeda, saling mencari tanpa menyadari bahwa kami sedang mencari diri sendiri. Cinta kami bukanlah cinta antara dua individu, melainkan _gema dari kehidupan yang tak pernah selesai_. Sebuah lingkaran tanpa ujung. Langit mulai bergetar. Kode-kode dunia mulai runtuh. Aku mendengar suara Kai, atau mungkin itu suaraku sendiri, berteriak: "Apakah ini akhirnya... ataukah ini Awal YANG BARU?!?"
You Might Also Like: 116 Shahid Khan Moved To Us With

0 Comments: