**Cinta yang Meninggalkan Bekas di Singgasana** Langit senja berlumur darah, persis seperti hatiku saat itu. Di balkon Istana Giok, aku berd...

Bikin Penasaran: Cinta Yang Meninggalkan Bekas Di Singgasana Bikin Penasaran: Cinta Yang Meninggalkan Bekas Di Singgasana

Bikin Penasaran: Cinta Yang Meninggalkan Bekas Di Singgasana

Bikin Penasaran: Cinta Yang Meninggalkan Bekas Di Singgasana

**Cinta yang Meninggalkan Bekas di Singgasana** Langit senja berlumur darah, persis seperti hatiku saat itu. Di balkon Istana Giok, aku berdiri, menyaksikan punggung Kaisar Xuan Wu menjauh. Punggung yang dulu begitu kurindukan, punggung yang kini terasa seperti dinding pemisah abadi. Dulu, aku Lady Mei Yue, kekasih rahasianya. Sekarang, aku hanyalah Permaisuri Jing, istri yang dipilih karena garis keturunan, bukan karena CINTA. "Mei Yue," bisiknya saat angin dingin mencambuk rambutku. Dia berhenti sejenak, tanpa berbalik. "Aku… aku tidak punya pilihan." Pilihan? Pilihan untuk menikahi putri Jenderal Agung, pilihan untuk mengamankan tahta. Pilihan untuk mengkhianati janji-janji yang diukir di bawah pohon persik saat bunga-bunga bermekaran. Janji tentang kerajaan kecil kita, janji tentang anak-anak yang berlarian di taman. Janji... *kosong*. Aku memejamkan mata. Bau dupa dan minuman anggur yang memabukkan tidak bisa menutupi bau pengkhianatan yang menyengat. Hatiku remuk, hancur berkeping-keping seperti guci porselen yang jatuh dari ketinggian. "Aku mengerti, Yang Mulia," jawabku, suaraku bergetar. Kebohongan. Kebohongan besar yang terasa seperti duri di tenggorokan. Aku *tidak* mengerti. Bagaimana mungkin cinta yang begitu dalam bisa diubah menjadi luka sedalam ini? Bagaimana mungkin aku, yang rela memberikan segalanya, berakhir sebagai boneka yang tersenyum di sampingnya? Beberapa tahun berlalu. Aku memainkan peranku dengan sempurna. Permaisuri yang anggun, bijaksana, dan patuh. Istana Giok menjadi saksi bisu penderitaanku. Setiap senyumku adalah topeng, setiap anggukan adalah drama. Sementara di dalam, racun penyesalan dan kebencian merambat perlahan. Kaisar Xuan Wu mendapatkan apa yang diinginkannya: tahta yang aman, kerajaan yang makmur. Tapi dia tidak tahu, di balik semua itu, benih kehancuran telah ditanam. Benih yang aku sirami setiap hari dengan air mata dan amarah yang terpendam. Suatu malam, saat badai menghantam istana, aku berdiri di depan pohon persik yang dulu menjadi saksi bisu janji kami. Petir menyambar, menerangi wajahku yang pucat. Aku tersenyum. Ini bukan lagi tentang cinta. Ini tentang keadilan. Kaisar Xuan Wu jatuh sakit. Penyakit yang aneh, yang perlahan-lahan menggerogoti jiwanya. Para tabib kerajaan menyerah. *Mereka tidak tahu bahwa racun yang membunuhnya berasal dari bunga persik yang kurawat setiap hari, bunga persik yang tumbuh di atas tanah yang disiram air mataku.* Di hari terakhirnya, dia memanggilku. Wajahnya pucat, matanya redup. Dia meraih tanganku, tanganku yang telah menanam racun itu. "Mei Yue…" bisiknya, nyaris tak terdengar. "Maafkan aku…" Aku tersenyum lembut. "Aku sudah memaafkanmu, Yang Mulia. Dulu." Dia menghembuskan napas terakhirnya. Di tanganku, aku merasakan sentuhan terakhirnya, sentuhan yang membawa serta semua cinta dan penyesalan. Sekarang, akulah yang berkuasa, **AKULAH** yang duduk di singgasana. Takdir memang kejam, bukan? Bekas cinta mungkin memudar, tapi dendam... itulah tinta abadi yang menulis ulang sejarah, dan kini singgasana menjadi saksi bisu dari kisah cinta yang berubah menjadi *neraka*, dan apakah aku akan tetap tersenyum atau menumpahkan darah, hanya waktu yang akan menunjukkan.
You Might Also Like: Wajib Baca Pedang Yang Bergetar Saat

0 Comments: