## Pelukan yang Tersisa Dalam Bayang Waktu Hujan selalu turun di Bukit Senja. Bukan hujan deras yang menggelegar, melainkan gerimis sunyi yang menari di atas nisan-nisan yang berlumut. Setiap tetesnya terasa seperti air mata, menyertai kesunyian abadi yang melingkupi tempat itu. Di sanalah, di antara bayangan pepohonan tua yang menolak pergi, Lin Yi berdiri. Bukan berdiri dalam arti sebenarnya, tentu saja. Ia **ADA**, namun tak terlihat, tak tersentuh. Seorang roh yang terikat, yang belum mampu melangkah menuju cahaya. Dulu, ia adalah seorang *pianis* berbakat. Tangannya lincah menari di atas tuts, menciptakan melodi yang mampu merobek hati dan menyatukan jiwa. Dulu. Kini, ia hanyalah sepotong kenangan, sekelebat bayangan yang terus kembali ke tempat yang sama: sebuah rumah tua di ujung jalan, tempat di mana ia menemui akhir tragisnya. Kecelakaan. Begitulah yang tertulis di koran. Namun, kebenaran seringkali lebih rumit, lebih pahit daripada tinta di atas kertas. Rumah itu kini dihuni oleh Xiao Mei, adik perempuannya. Xiao Mei yang dulu selalu mengaguminya, Xiao Mei yang kini tampak begitu rapuh dan kesepian. Setiap malam, Lin Yi menyaksikan Xiao Mei duduk di depan piano, mencoba memainkan lagu-lagu yang dulu ia ciptakan. Setiap not yang sumbang menusuk hati Lin Yi seperti belati yang dingin. Ia ingin berteriak, ingin membimbing, ingin memeluk Xiao Mei dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia hanya roh. Suaranya tak terdengar, sentuhannya tak terasa. Ia kembali bukan untuk balas dendam. Bukan untuk menghantui mereka yang mungkin bertanggung jawab atas kematiannya. *Bukan*. Ia kembali karena sebuah janji. Sebuah janji yang belum sempat ia ucapkan. Sebuah kebenaran yang terkubur bersama jasadnya. Kebenaran tentang perasaan yang ia simpan rapat-rapat, kebenaran tentang cintanya yang tak terbalas. Ia ingin Xiao Mei tahu, bahwa ia tidak pernah membencinya. Bahwa persaingan mereka dalam bermusik tidak pernah mengikis rasa sayangnya. Bahwa ia *MENYAYANGINYA* lebih dari apapun di dunia ini. Malam demi malam, Lin Yi mengumpulkan sisa-sisa energinya. Ia mencoba memanifestasikan dirinya, walau hanya sekejap. Ia ingin meninggalkan sebuah pesan, sebuah petunjuk. Ia mencoba menggerakkan sebuah bulu, menyalakan lilin, apa saja! Akhirnya, suatu malam, saat Xiao Mei tertidur di depan piano, Lin Yi berhasil. Ia menggunakan sisa-sisa kekuatannya untuk memainkan satu nada. Satu nada yang familiar. Nada pertama dari lagu yang paling ia cintai, lagu yang ia ciptakan khusus untuk Xiao Mei. Xiao Mei terbangun. Ia terkejut. Ia melihat sekelilingnya. Tidak ada siapapun. Namun, ia mendengar nada itu. Ia tahu itu bukan ilusi. Ia tahu itu Lin Yi. Ia mulai memainkan lagu itu, melanjutkan melodi yang terputus. Air matanya mengalir deras. Ia mengerti. Ia akhirnya mengerti. Beberapa hari kemudian, Xiao Mei menemukan sebuah surat tersembunyi di balik lemari piano. Surat itu ditulis oleh Lin Yi. Di dalamnya, tertulis semua yang ingin ia katakan. Tertulis semua perasaannya. Tertulis permohonan maaf dan *PENGAKUAN CINTA*. Lin Yi menyaksikan dari kejauhan. Hatinya terasa ringan. Beban yang selama ini menghimpit dadanya perlahan menghilang. Ia tidak lagi terikat. Ia bebas. Tugasnya selesai. Ia tidak mencari balas dendam. Ia hanya mencari *KEDAMAIAN*. Ia ingin Xiao Mei tahu, dan kini Xiao Mei telah tahu. Cahaya mulai memancar, memanggilnya. Ia menoleh ke belakang, menatap Xiao Mei untuk terakhir kalinya. Ia melihat Xiao Mei tersenyum, air mata masih membasahi pipinya. Kemudian, Lin Yi memejamkan mata, merasakan kehangatan cahaya itu menyelimutinya. …dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak kematiannya, ia merasa... tenang.
You Might Also Like: Solved Design 2 Bit Comparator By Using

0 Comments: