**Air Mata yang Tak Sempat Jatuh** Langit Nanjing malam itu membentang kelabu, sama persis dengan hatiku. Di balik jendela apartemen mewah ini, gemerlap kota terasa begitu hampa. Tangan kananku menggenggam erat cangkir teh *longjing*, aroma melatinya gagal menenangkan debaran di dada. Aku, Lin Meiying, berdiri tegar di puncak gedung pencakar langit ini, persis seperti imej yang kulukiskan selama ini: seorang wanita karir sukses, dingin, dan independen. *Tapi siapa sangka, di balik senyum yang menipu ini, ada hati yang hancur berkeping-keping.* Dulu, senyumku tulus. Senyum itu milik Wei, cintaku. Wei, pria yang berjanji akan mengarungi lautan bersamaku, pria yang pelukannya dulu terasa sehangat mentari pagi. Sekarang, pelukan itu terasa *beracun*, aroma parfumnya memualkan. Aku ingat, bagaimana matanya dulu menatapku penuh *cinta*. Kini, tatapan itu kosong, bahkan cenderung menghindari. Janji-janji manis yang dulu ia bisikkan di telingaku, kini berubah menjadi *belati* yang menusuk tanpa ampun. Aku tahu, Wei mencintai wanita lain. Bukannya aku tidak marah, bukan pula aku tidak sakit hati. Tapi, aku terlalu lelah untuk menangis, terlalu bangga untuk meratap. Air mata ini *takkan* kuberikan padanya. Biarlah ia menganggapku bodoh, biarlah ia mengira aku tidak tahu apa-apa. Aku akan membiarkannya menikmati kemenangannya sesaat. Rencanaku sederhana, *elegan*, dan mematikan. Aku tidak akan membalas dengan kemarahan atau kekerasan. Aku akan merebut semua yang berharga baginya, perlahan tapi pasti. Perusahaan keluarga Wei, yang selama ini ia banggakan? Akan menjadi milikku. Wanita itu, yang ia puja-puja? Akan merasakan pahitnya ditolak dan ditinggalkan. Semuanya sudah kuatur dengan cermat. Jejaringku tersebar luas, pengaruhku tak terhitung. Aku akan membuatnya menyesal, *penyesalan yang abadi*, penyesalan yang akan menghantui setiap detik hidupnya. Dendam ini bukan tentang uang atau kekuasaan. Ini tentang kehormatan yang direnggut, tentang cinta yang dikhianati, tentang kepercayaan yang dihancurkan. Aku menyesap tehku, senyum tipis tersungging di bibirku. Rasa *pahit* bercampur *manis* menggelitik lidah. Aku menutup mata, membayangkan raut wajah Wei saat semua ini terungkap. Saat fajar menyingsing, aku berbisik lirih, "Maafkan aku, Wei. Aku tidak punya pilihan lain." Cinta dan dendam... *lahir dari tempat yang sama*.
You Might Also Like: Rachel Zegler Confirms Snow White Live

0 Comments: