## Senyum yang Hilang di Bawah Hujan Bulan Juni Gerimis bulan Juni mencambuk kaca jendela kafe. Rintiknya *menggigil*, sama seperti hatiku setiap kali bayanganmu melintas di pelupuk mata. Aroma kopi yang pahit seolah mengejek, mengingatkanku pada janji-janji manis yang kau ucapkan dulu, janji yang kini terasa seperti debu yang tertiup angin. Delapan tahun. Delapan tahun sejak kau meninggalkanku di altar, memilih wanita lain, *mematahkan* hatiku menjadi serpihan yang tak mungkin lagi disusun. Aku masih ingat jelas senyummu saat itu, senyum yang tidak pernah kuterima, senyum yang kini menjadi mimpi buruk abadi. Lihatlah aku sekarang, Li Wei. Aku, Xiao Yue, wanita yang kau campakkan dengan keji. Dulu, aku hanyalah gadis naif yang percaya pada cinta abadi. Sekarang? Aku adalah pengusaha sukses, pemilik kafe ini, dan penguasa atas hidupku sendiri. Bayang-bayangmu memang masih menghantuiku, tetapi aku telah belajar untuk menari di bawahnya, menciptakan narasi baru yang jauh lebih kuat. Kau sering datang ke kafe ini, bukan? Duduk di sudut favoritmu, memesan teh yang sama, dan menatap kosong ke arah hujan. Apakah kau merasa bersalah, Li Wei? Apakah bayang-bayangku juga menghantuimu? Aku melihatnya. Aku melihat penyesalan di matamu, kelelahan yang terpancar dari raut wajahmu. Wanita yang kau pilih, yang kau tinggalkan bersamaku, ternyata tidak memberimu kebahagiaan yang kau cari. Dia hanya memberikanmu kekecewaan dan kesepian. Dulu, aku menangis setiap malam, meratapi kehilanganmu. Sekarang, aku tersenyum setiap kali melihatmu menderita. *CAHAYA LENTERA* di hatiku nyaris padam, tetapi aku menemukannya kembali dalam setiap tetes air matamu. Aku tahu semua tentangmu, Li Wei. Aku tahu tentang bisnis yang hampir bangkrut, tentang hutang yang menumpuk, tentang *KEKECEWAAN* yang mendalam dari keluargamu. Aku bahkan tahu tentang penyakit istrimu, penyakit yang akan membuatnya… menderita. Aku tidak akan menyangkalnya. Semua ini, setiap langkah yang kuambil, setiap keputusan yang kubuat, semuanya adalah bagian dari rencana. Rencana yang kubangun selama delapan tahun terakhir. Rencana yang akan membuatmu merasakan sakit yang sama, bahkan *LEBIH DALAM*. Aku menyipitkan mata saat kau menatapku dari kejauhan. Kau terlihat renta, Li Wei. Kehidupan telah menggerogoti semangatmu. Aku tersenyum. Senyum yang akhirnya bisa kuterima, senyum yang lahir dari pahitnya *BALAS DENDAM*. Angin berhembus kencang, meniup tirai jendela. Aku melihat ke luar, ke arah kegelapan malam. "Siapa yang tahu, Li Wei… *bahwa anak yang kau tinggalkan dulu, adalah pewaris tunggal perusahaanmu?*"
You Might Also Like: Rekomendasi Pelembab Untuk Memperbaiki

0 Comments: