**Cinta yang Menghapus Darah dari Pedang** Kabut tipis menggantung di Lembah Seribu Bayangan, serupa kerudung pengantin yang tak jadi dikenakan. Di tengahnya, berdiri Ling, punggungnya selebar lautan menutupi luka dunia. Di tangannya, Pedang Naga Mengamuk, yang biasanya memancarkan kilat haus darah, kini meredup, seolah ikut berduka. Di kakinya, tergeletak tubuh Ying, gaun merahnya menyatu dengan tanah, menjadi kanvas kematian. Ling menunduk. Bertahun-tahun peperangan, ribuan nyawa melayang, semuanya demi *kekuatan* yang dijanjikan para tetua. Tapi, di balik tirai besi kekuasaan itu, bersembunyi wajah Ying, kekasihnya, yang diam-diam menyusup ke sisinya, berharap bisa menghentikan lingkaran setan ini. "Ying..." bisik Ling, suaranya pecah seperti gelas kristal yang jatuh ke batu. "Kenapa kau lakukan ini? Aku...aku tidak mau kehilanganmu." Ying membuka mata, setetes darah menetes dari sudut bibirnya. Senyum tipis, setipis benang sutra, terukir di wajahnya. "Kau sudah kehilanganku sejak lama, Ling. Sejak kau memilih pedang ini daripada hatimu." Ling berlutut, tangannya gemetar menyentuh pipi Ying yang dingin. "Itu tidak benar! Aku melakukannya demi... demi kita. Demi masa depan yang lebih baik." Ying terbatuk, darah mewarnai jarinya. "Masa depan yang dibangun di atas lautan darah? Masa depan yang kau ukir dengan kematian? Aku tidak menginginkan masa depan seperti itu, Ling. Aku hanya menginginkan *kau*." Air mata mengalir deras di pipi Ling, membasahi wajah Ying. "Aku... aku bodoh. Aku dibutakan oleh ambisi. Maafkan aku, Ying. Maafkan aku..." Ying meraih tangan Ling, jemarinya yang berlumuran darah menggenggam erat. "Terlambat, Ling. Terlambat untuk semua. Tapi... ingatlah janjiku. Aku akan selalu mencintaimu, bahkan setelah kematian." Napas Ying tersengal, lalu terhenti. Matanya terpejam untuk selamanya. Ling meraung, suara kesedihannya membelah kesunyian lembah. Pedang Naga Mengamuk bergetar di tangannya, seolah ikut merasakan kehancuran hatinya. Tapi kali ini, *kemarahan* Ling bukan lagi untuk musuh-musuhnya. Kemarahannya tertuju pada dirinya sendiri. Malam itu, Ling menghilang. Pedang Naga Mengamuk ditinggalkannya di makam Ying, tertancap di tanah sebagai simbol pengkhianatan dan penyesalan. Beberapa bulan kemudian, para tetua yang dulu menjanjikannya kekuasaan satu per satu ditemukan tewas, tanpa jejak, tanpa saksi. Hanya desas-desus yang beredar di kalangan prajurit, tentang hantu bersenjatakan *hukuman* yang datang dari kegelapan. Dan di setiap malam tanpa bintang, di lembah tempat Ying berbaring, terdengar bisikan lirih: **Cinta boleh saja memaafkan, tapi takdir punya cara sendiri untuk membalas.**
You Might Also Like: 123 Classy Casual Dresses Casual

0 Comments: