**Bayangan yang Menyimpan Nama yang Terlarang** Hujan gerimis menyelimuti paviliun bambu, setiap tetesnya bagai air mata yang enggan jatuh. ...

SERU! Bayangan Yang Menyimpan Nama Yang Terlarang SERU! Bayangan Yang Menyimpan Nama Yang Terlarang

SERU! Bayangan Yang Menyimpan Nama Yang Terlarang

SERU! Bayangan Yang Menyimpan Nama Yang Terlarang

**Bayangan yang Menyimpan Nama yang Terlarang** Hujan gerimis menyelimuti paviliun bambu, setiap tetesnya bagai air mata yang enggan jatuh. Di dalam remang senja, berdiri Jing Wei, jubah putihnya basah kuyup, namun tatapannya tetap setajam pedang. Di hadapannya, berlutut seorang pria, Li Ming, bekas jendral besar yang kini hanya menyisakan bayangan kejayaan. "Jing Wei..." suaranya serak, diiringi batuk yang mengoyak paru-parunya. "Maafkan aku..." Jing Wei tidak bergeming. Di matanya, terukir labirin kenangan: senyum Li Ming di bawah pohon persik yang bermekaran, janji setia di bawah rembulan purnama, dan pengkhianatan yang meremukkan hatinya berkeping-keping. Li Ming telah memilih kekuasaan, meninggalkan Jing Wei dan nama keluarga yang *TERLARANG* yang dibawanya. "Kata-kata itu... tidak lagi berarti," bisik Jing Wei, suaranya bagai desiran angin yang menusuk tulang. "Kau telah memilih jalanmu, Li Ming. Jalan yang membawamu kemari, ke hadapanku." Li Ming mencoba meraih tangannya, namun Jing Wei menarik diri. "Dulu, aku adalah matahari bagimu. Sekarang, aku hanyalah bayangan masa lalu yang kau coba lupakan." Ia ingat, dulu, Li Ming bersumpah akan melindunginya, membawanya terbang tinggi di atas sayap cinta. Namun, janji itu hanyalah debu yang tertiup angin, hilang ditelan ambisi. Ia ingat malam ketika ia mendengar Li Ming menikahi putri mahkota, malam di mana hatinya hancur berkeping-keping. "Aku... aku melakukan semua ini untuk melindungimu, Jing Wei!" Li Ming meratap. "Nama keluargamu... mereka akan memburumu!" Jing Wei tersenyum pahit. "Melindungi? Dengan menusukku dari belakang? Dengan mengorbankan cintaku demi tahta?" Air matanya akhirnya jatuh, bukan air mata kesedihan, melainkan amarah yang membara. "Kau pikir aku butuh perlindunganmu? Aku adalah Jing Wei, penerus garis keturunan *PENYIHIR*, dan aku akan menuntut balas." Tangan Jing Wei bergerak, mengeluarkan jarum perak dari balik lengan bajunya. Jarum itu bersinar mematikan di antara bayang-bayang. "Bukan aku yang akan menghukummu, Li Ming," desisnya. "Namun, takdir punya caranya sendiri untuk menyeimbangkan keadilan." Ia menusuk jarum itu ke titik akupunktur di leher Li Ming. Bukan untuk membunuh, melainkan untuk MENGUNCI ingatan Li Ming, menghapus seluruh kenangan tentang dirinya, tentang cinta mereka, tentang pengkhianatannya. Li Ming berteriak kesakitan, lalu terdiam, matanya kosong. Jing Wei menatapnya, wajahnya tanpa ekspresi. Li Ming, jendral besar, pangeran, kekasihnya, kini hanyalah cangkang kosong tanpa ingatan. "Hidupmu akan berlanjut, Li Ming," bisik Jing Wei, suaranya nyaris tak terdengar. "Namun, kau akan hidup dengan bayangan nama yang terlupakan, dengan kekosongan yang abadi." Ia berbalik, melangkah menjauh dari paviliun, meninggalkan Li Ming sendirian di bawah guyuran hujan. **Cinta yang dikhianati mungkin terlupakan, namun dendam, seperti bayangan, akan selalu mengikuti langkahmu.**
You Might Also Like: 162 Discover Bank Review Free Checking

0 Comments: