**Pelukan yang Kutinggalkan di Masa Lalu** Kabut lembayung menyelimuti Danau Xihu, persis seperti hari itu, sepuluh tahun lalu. Aroma *osmanthus* menguar lembut, pahitnya seperti kenangan yang enggan menghilang. Di tepian danau inilah, di bawah naungan willow yang menjuntai, aku kehilanganmu, Lin Bai. Dulu, kau adalah mentari dalam hidupku, cahaya yang menuntun di tengah kegelapan. Senyummu adalah simfoni, tawamu adalah melodi yang selalu kurindukan. Kita berjanji, di bawah rembulan yang sama, untuk selamanya. *SELAMANYA*. Sebuah kata yang kini terasa seperti pisau yang mengiris hatiku berulang kali. Namun, ***takdir*** rupanya punya rencana lain. Keluarga kita bermusuhan, terjerat dalam intrik bisnis yang kejam. Kau, pewaris Lin yang terhormat, dijodohkan dengan putri keluarga Zhang, demi menjaga stabilitas dan kekayaan imperium bisnismu. Aku ingat, hari itu, saat kau mengatakannya. Suaramu bergetar, matamu yang biasanya berbinar redup tertunduk. Kau memohon maaf, berjanji akan selalu mencintaiku. Tapi, maafmu tak cukup. Janjimu hanya debu yang ditiup angin. "Aku... aku tidak bisa melawan keluargaku, Yunxi. Ini untuk kebaikan semua," bisikmu, dengan air mata yang tumpah. Saat itu, aku hanya bisa terpaku, membisu. Hati ini terasa hancur berkeping-keping. Aku ingin berteriak, merobek kain kepalsuan ini. Namun, yang keluar hanyalah sebuah anggukan lemah, sebuah senyum pahit yang kutawarkan sebagai perpisahan. **Pelukan terakhir** kita terjadi di bawah pohon willow itu. Pelukan yang menyimpan ribuan kata yang tak terucap, sejuta harapan yang pupus. Pelukan yang *meninggalkan luka* yang tak pernah sembuh. Aku pergi, meninggalkan kota itu, meninggalkan mimpi-mimpi yang kita rajut bersama. Aku mengubur diriku dalam kesunyian, membalut luka dengan kerja keras dan tekad yang membara. Aku belajar, aku tumbuh, aku menjadi seseorang yang **BARU**. Seseorang yang tak lagi rapuh, tak lagi bergantung pada belas kasihan. Sepuluh tahun berlalu. Aku kembali. Bukan sebagai Yunxi yang dulu, gadis polos yang penuh cinta. Aku kembali sebagai Ava Li, seorang pengusaha yang disegani, pemilik perusahaan investasi yang kekayaannya tak kalah dari keluarga Lin. Aku kembali, bukan untuk menemuimu, bukan untuk bernostalgia. Aku kembali... untuk *memastikan* bahwa kau tahu, bahwa **kau** telah kehilangan sesuatu yang tak ternilai harganya. Kudengar, pernikahanmu dengan putri Zhang tidak bahagia. Kudengar, bisnismu mulai goyah, terancam oleh persaingan yang semakin ketat. Kudengar, kau masih menyimpan fotoku di dompetmu. Kini, aku berdiri di balkon hotel, menghadap ke arah kantor pusat perusahaan Lin. Cahaya lampu terpancar dari jendelanya, menyoroti sosok yang kukenal baik. Kau, Lin Bai, sedang bergulat dengan dokumen-dokumen, mencoba menyelamatkan apa yang tersisa. Senyum sinis terukir di bibirku. Aku tahu apa yang akan kulakukan. Aku akan membeli perusahaanmu, perlahan, diam-diam, sampai kau tak menyadarinya. Aku akan mengambil alih, bukan dengan paksa, tapi dengan *keanggunan* dan *presisi*. Aku akan membiarkanmu menyaksikan, dengan mata kepala sendiri, bagaimana kerajaamu runtuh di hadapanku. Aku akan membiarkanmu merasakan, walau hanya secuil, rasa sakit yang dulu kurasakan. Bukan karena dendam, tentu saja. Hanya... *takdir* yang menuntut keadilan. Kulihat kau mendongak, seolah merasakan tatapanku. Kau menatap ke arah balkonku, tatapanmu penuh kerinduan dan... *penyesalan*. Dan di saat itulah, aku tahu, **cintamu padaku belum padam sepenuhnya, sama seperti dendamku padamu, belum menyala sempurna**.
You Might Also Like: 106 16 Clever Privacy Ideas For Your

0 Comments: