Oke, ini dia kisah dracin emosional berjudul "Ia Tersenyum Saat Aku Menangis, Karena Itu Janji Kami Dulu": **Ia Tersenyum Saat Aku Menangis, Karena Itu Janji Kami Dulu** Embun pagi membasahi kelopak *peony* di taman belakang. Wangi semerbaknya tak mampu menutupi getir di hatiku. Di sinilah, di bawah langit biru yang *mengejek*, kebohongan itu dimulai. Sebuah kebohongan yang dirajut dengan benang emas, disulam dengan senyum manis, dan dipersembahkan kepadaku oleh orang yang paling kucintai, Wei Liang. Wei Liang… namanya meluncur dari bibirku seperti racun manis. Ia adalah mentari dalam hidupku, pelindungku dari badai dunia. Tapi, mentari juga bisa membakar, dan Wei Liang telah membakar hatiku hingga menjadi abu. Kami berjanji, di bawah pohon *sakura* yang sedang bermekaran, saat usia kami masih terlalu muda untuk mengerti arti sebuah janji. "Saat kau menangis, aku akan tersenyum. Itu janjiku padamu, *Xiao Mei*," bisiknya, lalu mengecup keningku. Sebuah janji yang seharusnya menjadi penenang, justru menjadi belati yang menusuk jantungku setiap kali air mata ini jatuh. Aku hidup dalam dunia yang dibangun Wei Liang. Sebuah dunia yang dipenuhi kemewahan, kasih sayang, dan kebahagiaan semu. Tapi, bayangan gelap selalu mengintai di balik tawa renyahku. Instingku berteriak, ada sesuatu yang salah. Ada rahasia yang disembunyikan di balik mata *indahnya* itu. Maka, aku mulai mencari. Mengorek setiap sudut lemari rahasia, membaca surat-surat usang, dan menyelami masa lalu Wei Liang yang *terbungkam*. Semakin aku mencari, semakin dekat aku dengan jurang kehancuran. Kebenaran itu datang seperti badai, menghancurkan istana pasir yang telah kubangun dengan susah payah. Wei Liang, *pria yang kucintai*, adalah dalang di balik kematian ayahku. Ia memanfaatkan kebaikanku, cintaku, untuk menutupi kejahatannya. Saat pertama kali mengetahui kebenaran itu, aku hancur. Air mata membasahi wajahku, rasa sakit merobek-robek jantungku. Aku ingin berteriak, memaki, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Di saat itulah, aku teringat janjinya. Janji yang selalu ia tepati, janji yang sekarang terasa seperti kutukan. Aku mencari Wei Liang. Aku menemukannya berdiri di tepi jurang, memandang ke bawah dengan tatapan kosong. Ia menoleh saat aku mendekat, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Kau tahu, *Xiao Mei*?" bisiknya pelan. "Aku selalu mencintaimu. Bahkan, saat aku menghancurkanmu." Air mata mengalir di pipiku. Ia tersenyum lebih lebar. "Sesuai janji kita," ucapnya, lalu mengangkat tangannya. Aku membalas senyumnya. Senyum yang tidak mengandung kebahagiaan, senyum yang hanya menyimpan *kepedihan* dan *kebencian*. "Ya, Wei Liang. Sesuai janji kita." Aku mendorongnya. Ia terjatuh. Tidak ada teriakan, hanya keheningan. Aku berdiri di tepi jurang, menatap tubuhnya yang tergeletak di bawah sana. Air mata terus mengalir, tapi kali ini, aku tidak merasa sakit. Aku merasa… *lega*. Balas dendamku selesai. Tenang. Mengerikan. Aku berbalik, meninggalkan jurang itu, meninggalkan masa lalu yang penuh dengan kebohongan. Aku akan memulai hidup baru, hidup yang bebas dari bayang-bayang Wei Liang. Tapi, sebelum pergi, aku berbisik, "Terima kasih, Wei Liang. Karena senyummu, aku akhirnya bisa *melepaskanmu*." Di kejauhan, di antara kabut pagi, seseorang tersenyum, mengetahui bahwa ini hanyalah awal dari permainan yang lebih berbahaya…
You Might Also Like: 191 Tanu Rhythmicrealm Instagram Photos
0 Comments: