## Kaisar Itu Memberi Mahkota, Tapi Hatinya Kosong Tanpa Nama Hujan mengetuk jendela apartemen kecil Lin Yi, iramanya serupa dengan notifi...

Cerita Populer: Kaisar Itu Memberi Mahkota, Tapi Hatinya Kosong Tanpa Nama Cerita Populer: Kaisar Itu Memberi Mahkota, Tapi Hatinya Kosong Tanpa Nama

Cerita Populer: Kaisar Itu Memberi Mahkota, Tapi Hatinya Kosong Tanpa Nama

Cerita Populer: Kaisar Itu Memberi Mahkota, Tapi Hatinya Kosong Tanpa Nama

## Kaisar Itu Memberi Mahkota, Tapi Hatinya Kosong Tanpa Nama Hujan mengetuk jendela apartemen kecil Lin Yi, iramanya serupa dengan notifikasi yang dulu **membanjiri** ponselnya. Dulu, nama "Kaisar" akan menyala di layar, mengirimkan getaran yang membuat jantungnya berdansa. Sekarang? Hanya sisa-sisa *chat* yang belum terhapus, saksi bisu sebuah kerajaan yang runtuh tanpa perang. Kaisar. Bukan gelar sebenarnya. Itu adalah julukan yang Lin Yi berikan pada Zhang Wei, CEO muda dari perusahaan teknologi raksasa, *Phoenix Tech*. Pertemuan mereka bagai adegan film: kopi tumpah di kafe yang ramai, diikuti permintaan maaf kikuk, dan tatapan yang **terlalu** lama bertaut. Lalu, pesan-pesan singkat di malam hari, makan malam rahasia di tengah kesibukan kota, dan janji-janji yang dibisikkan di bawah langit Seoul yang bertabur bintang. Zhang Wei memberikan Lin Yi segalanya. Pekerjaan impian di Phoenix Tech, apartemen mewah dengan pemandangan kota yang memesona, dan yang terpenting, perhatian yang Lin Yi dambakan. Tapi ada yang *hilang*. Ada dinding kaca tak terlihat yang selalu memisahkan mereka. Zhang Wei memberinya mahkota, karir yang gemilang, tapi hatinya… *hatinya kosong tanpa nama*. Setiap malam, Lin Yi memimpikan masa lalu. Kenangan tentang senyum Zhang Wei, sentuhan tangannya, aroma kopi yang selalu dipesan Zhang Wei, semuanya terasa **pedih**. Ia tahu ada rahasia di balik mata kelabu itu, sesuatu yang menghantuinya, sesuatu yang membuatnya ragu untuk sepenuhnya menyerahkan diri. Suatu hari, Lin Yi menemukan *file* tersembunyi di laptop Zhang Wei. Foto-foto seorang wanita. Bukan wanita glamor seperti yang biasa dilihat di pesta perusahaan, tapi seorang gadis sederhana dengan senyum menular dan mata yang penuh cinta. Nama di *file* itu: Meilin. Meilin. Nama itu bagai pisau yang mengiris hatinya. Meilin adalah masa lalu Zhang Wei, masa lalu yang tampaknya belum sepenuhnya ditinggalkan. Meilin adalah jawaban atas semua keraguan Lin Yi, alasan mengapa hati Zhang Wei selalu terasa jauh. Lin Yi tidak menghadapi Zhang Wei. Ia tidak berteriak, tidak menangis, tidak memohon penjelasan. Ia hanya mengemas barang-barangnya, meninggalkan apartemen yang terasa seperti sangkar emas. Ia mengundurkan diri dari Phoenix Tech, menghapus semua kontak dengan Zhang Wei. Beberapa minggu kemudian, Lin Yi berdiri di depan jendela apartemen barunya, apartemen kecil namun terasa *miliknya*. Hujan masih turun, tapi kali ini iramanya tidak menyakitkan. Ia meraih ponselnya, membuka *chat* dengan Zhang Wei, dan mengetik satu pesan terakhir: _"Terima kasih untuk segalanya, Kaisar. Tapi kerajaan ini bukan untukku."_ Lin Yi menekan tombol kirim, lalu tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang **terbebas**. Ia mematikan ponselnya, meletakkannya di meja, dan berjalan menuju jendela. Kota di bawahnya tampak kecil dan jauh, tapi Lin Yi tahu, di suatu tempat di antara lampu-lampu itu, Zhang Wei mungkin sedang memikirkan dirinya. Balas dendam Lin Yi tidak keras, tidak dramatis. Balas dendamnya adalah *keputusannya* untuk memilih dirinya sendiri, untuk menulis ulang takdirnya sendiri. Balas dendamnya adalah **kebebasannya**. Dan ketika Zhang Wei menemukan pesan itu, satu-satunya yang ia dengar adalah suara hujan yang semakin deras, seolah *menangisi* kerajaan yang telah hilang… … *dan hati yang takkan pernah bisa ia miliki.*
You Might Also Like: Review Sunscreen Mineral Non Nano Aman

0 Comments: