Baiklah, inilah kisah dengan tema yang Anda inginkan, dengan sentuhan dramatis dan puitis: **Kau Berkata Akan Kembali, Tapi Perang Lebih Cep...

Dracin Seru: Kau Berkata Akan Kembali, Tapi Perang Lebih Cepat Menjemputmu Dracin Seru: Kau Berkata Akan Kembali, Tapi Perang Lebih Cepat Menjemputmu

Dracin Seru: Kau Berkata Akan Kembali, Tapi Perang Lebih Cepat Menjemputmu

Dracin Seru: Kau Berkata Akan Kembali, Tapi Perang Lebih Cepat Menjemputmu

Baiklah, inilah kisah dengan tema yang Anda inginkan, dengan sentuhan dramatis dan puitis: **Kau Berkata Akan Kembali, Tapi Perang Lebih Cepat Menjemputmu** Malam merayap di atas dataran Mongolia yang membeku, serupa kain beludru hitam yang ditaburi bintang-bintang pucat. Angin mencambuk tenda-tenda prajurit Kekaisaran Xia, membawa serta lolongan serigala dan bisikan *KEMATIAN*. Di dalam salah satunya, di balik tirai sutra yang diwarnai asap dupa sandalwood, berdiri Putri Lian, wajahnya yang biasanya selembut pualam kini mengeras seperti batu. Lian menatap bara api yang menari-nari di perapian. Tiga tahun. Tiga musim dingin yang membekukan hati sejak Jenderal Zhao, kekasihnya, putra angkat Kaisar yang diagungkan, mengucapkan janji di bawah pohon plum yang tengah bermekaran. *“Aku akan kembali, Lian. Menjemputmu, membawamu ke altar, menjadikanmu satu-satunya ratuku.”* Kata-kata itu kini terasa bagai lelucon pahit. Zhao, sang pahlawan Xia, tenggelam dalam lautan peperangan melawan suku Rouran. Surat-suratnya semakin jarang, hingga akhirnya hanya menjadi berita kematian demi kematian, nama demi nama prajurit yang gugur di medan perang. Lian mengepalkan tangan. Cinta dan kebencian, dua naga yang saling menggigit ekor dalam dadanya. Cinta pada Zhao yang gagah berani, dan kebencian pada perang yang merenggutnya. Kebencian pada Kaisar, ayah angkat Zhao, yang haus akan darah dan kekuasaan. Tiba-tiba, tirai tersibak. Sosok tinggi tegap berdiri di ambang pintu, siluetnya diterangi cahaya obor di luar. Bukan Zhao. Melainkan Jenderal Li, tangan kanan Zhao, wajahnya dipenuhi lumpur dan noda darah yang membeku. "Putri Lian," suara Li serak. "Berita buruk. Jenderal Zhao... gugur." Dunia Lian runtuh. Bukan dengan ledakan, melainkan dengan keheningan yang memekakkan telinga. Ia merasakan sesuatu patah di dalam dirinya, lebih rapuh dari es yang tertiup angin. "Bagaimana?" bisik Lian, suaranya nyaris tak terdengar. "Serangan Rouran mendadak. Jenderal Zhao... melindungi para prajurit. Dia... menyerahkan dirinya." Lian terhuyung mundur. Li menangkapnya, tapi sentuhan Li terasa bagai sengatan listrik yang membakar kulitnya. "Ada lagi, Putri," lanjut Li, suaranya bergetar. "Sebelum meninggal, Jenderal Zhao... menitipkan ini." Li menyerahkan sebuah kotak kayu kecil. Lian membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, bukan cincin pertunangan yang dijanjikan, melainkan... *surat*. Ia membaca surat itu di bawah cahaya redup. Kata-kata Zhao yang tertulis dengan tergesa-gesa, mengungkapkan kebenaran yang *MEMBEKU* darah di nadinya. *“Lian, jika kau membaca surat ini, berarti aku telah gagal kembali. Aku telah gagal melindungimu dari kebenaran. Ayahku, Kaisar, memerintahkanku untuk membantai seluruh desa ibumu, sebagai hukuman atas pengkhianatan mereka di masa lalu. Aku menolak. Tapi dia mengancam akan membunuhmu. Aku terpaksa menurut. Maafkan aku, Lian. Maafkan aku.”* Darah terasa mendidih di dalam diri Lian. Jadi, selama ini, ia mencintai seorang pembunuh. Pembunuh rakyatnya sendiri. Seorang *PENGKHIANAT*. Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan abu dupa yang berjatuhan. Janji di atas abu. Malam itu, Lian merencanakan balas dendamnya. Bukan balas dendam yang gegabah dan penuh amarah, melainkan balas dendam yang dingin, terukur, dan *MEMATIKAN*. Beberapa bulan kemudian, Kaisar Xia merayakan kemenangan atas suku Rouran. Pesta pora diadakan di istana, anggur mengalir deras, dan para selir menari dengan gemulai. Lian, dengan gaun sutra hitam yang elegan, berdiri di samping Kaisar, wajahnya tersenyum lembut. "Ayahanda Kaisar," kata Lian, suaranya manis bagai madu. "Izinkan aku mempersembahkan arak khusus untuk merayakan kemenangan ini." Lian menuangkan arak ke dalam cangkir emas Kaisar. Arak yang telah ia campur dengan racun mematikan yang ia dapatkan dari suku Rouran yang dikalahkan. Racun yang tidak meninggalkan jejak, racun yang akan membuat Kaisar mati dalam tidurnya, tanpa rasa sakit. Kaisar meneguk arak itu hingga tandas. Ia tersenyum pada Lian, tidak menyadari bahwa senyum itu adalah senyum terakhirnya. Beberapa hari kemudian, Kaisar Xia ditemukan tewas di tempat tidurnya. Lian, sebagai satu-satunya putri Kaisar yang masih hidup, dinobatkan sebagai Ratu Xia. Ia memerintah dengan bijaksana dan adil, membawa kedamaian dan kemakmuran bagi rakyatnya. Tapi setiap malam, sebelum tidur, Lian akan menatap potret Jenderal Zhao, senyum dingin menghiasi bibirnya. Balas dendam telah terbayar lunas. Dan bisikan yang menyertai setiap hembusan angin malam membisikkan satu kalimat yang tak akan pernah bisa diabaikan: *Apakah kebahagiaan yang diraih di atas darah orang lain, sungguh akan bertahan selamanya?*
You Might Also Like: 132 Perbedaan Tabir Surya Mineral

0 Comments: