## Kau Membakar Dunia, dan Aku Tetap Memelukmu di Tengah Apinya Rintik hujan di atap paviliun kuno itu membangkitkan sesuatu dalam diri Lin ...

TOP! Kau Membakar Dunia, Dan Aku Tetap Memelukmu Di Tengah Apinya TOP! Kau Membakar Dunia, Dan Aku Tetap Memelukmu Di Tengah Apinya

TOP! Kau Membakar Dunia, Dan Aku Tetap Memelukmu Di Tengah Apinya

TOP! Kau Membakar Dunia, Dan Aku Tetap Memelukmu Di Tengah Apinya

## Kau Membakar Dunia, dan Aku Tetap Memelukmu di Tengah Apinya Rintik hujan di atap paviliun kuno itu membangkitkan sesuatu dalam diri Lin Yi. Aroma tanah basah, suara gesekan ranting bambu, semua terasa *familiar*, namun asing. Dia, seorang mahasiswa arsitektur di abad ke-21, selalu merasa aneh di tempat-tempat bersejarah. Seolah ada fragmen ingatan yang mencoba menembus kabut. Lin Yi mengunjungi Paviliun Bulan Purnama, sebuah bangunan peninggalan Dinasti Tang yang nyaris runtuh. Di sana, di tengah puing-puing, dia menemukan sebuah giok berbentuk naga. Saat menyentuhnya, kepalanya *berdenyut* sakit. Mimpi-mimpi mulai menghantui. Dia melihat dirinya, bukan Lin Yi, melainkan seorang jenderal wanita bernama Zhao Yunlan. Berdiri di medan perang dengan baju zirah berlumuran darah, pedangnya menebas musuh. Dia melihat pengkhianatan. Seorang pria, wajahnya tertutup bayangan, menusuknya dari belakang. *Mengapa?* Hari demi hari, kepingan ingatan itu terkumpul. Zhao Yunlan adalah kekasih seorang pangeran ambisius, Li Wei. Demi tahta, Li Wei bersekongkol dengan musuh, mengorbankan Zhao Yunlan dan pasukannya. Cinta yang dijanjikan menjadi abu. Lin Yi menyadari, Li Wei telah bereinkarnasi. Dia adalah profesor sejarahnya, Profesor Zhang. Seorang pria yang selalu memandangnya dengan tatapan intens, tatapan *mengagumi* sekaligus *menyesal*. Profesor Zhang mendekatinya, membicarakan sejarah Dinasti Tang, kisah-kisah kepahlawanan, dan tragedi cinta. Ia tahu, Lin Yi telah mengingat semuanya. "Yunlan... di kehidupan ini, aku hanya ingin menebus kesalahanku," bisiknya suatu malam, di bawah rembulan pucat. Lin Yi tersenyum tipis. Balas dendamnya bukan darah dan air mata. Bukan kematian. Balas dendamnya adalah pilihan. "Profesor Zhang," jawabnya, suaranya dingin namun tenang, "Saya menghargai dedikasi Anda terhadap sejarah. Tapi minat saya pada Dinasti Tang sudah mereda. Maaf, saya harus fokus pada studi arsitektur modern." Ucapan itu adalah penghancuran total. Li Wei, sang pangeran yang berkhianat, terkurung dalam penyesalan abadi, sementara Zhao Yunlan memilih jalan baru, bebas dari bayang-bayang masa lalu. Lin Yi meninggalkan Paviliun Bulan Purnama. Angin malam berhembus membawa janji. Dia tahu, di suatu waktu, di suatu tempat, di kehidupan selanjutnya, mereka akan bertemu lagi. *Dan saat itu tiba, akankah api kebencian masih membara?*
You Might Also Like: 0895403292432 Peluang Bisnis Skincare

0 Comments: