## Aku Menjaga Jarak Agar Tak Terluka, Tapi Tetap Saja Berdarah Jakarta berderai. Hujan seperti tirai abu-abu yang menyembunyikan semuanya, ...

Cerpen Seru: Aku Menjaga Jarak Agar Tak Terluka, Tapi Tetap Saja Berdarah Cerpen Seru: Aku Menjaga Jarak Agar Tak Terluka, Tapi Tetap Saja Berdarah

Cerpen Seru: Aku Menjaga Jarak Agar Tak Terluka, Tapi Tetap Saja Berdarah

Cerpen Seru: Aku Menjaga Jarak Agar Tak Terluka, Tapi Tetap Saja Berdarah

## Aku Menjaga Jarak Agar Tak Terluka, Tapi Tetap Saja Berdarah Jakarta berderai. Hujan seperti tirai abu-abu yang menyembunyikan semuanya, termasuk rasa sakit yang merambat di nadiku. Dulu, di balik tirai ini, kita pernah tertawa. Sekarang, hanya aroma kopi pahit dan sisa chat yang tak terkirim yang menemaniku. Dia, *Lin Wei*, adalah kilatan cahaya di tengah notifikasi yang tak ada habisnya. Seorang arsitek muda, penuh ide gila dan mata yang menantang. Pertemuan kita seperti glitch dalam sistem: tak terduga, namun terasa seperti takdir. Obrolan pertama, kencan pertama, ciuman pertama di bawah payung berlubang – semuanya terekam jelas dalam *cloud* ingatanku. Namun, seperti jaringan wifi yang tiba-tiba hilang, Lin Wei menghilang. Tanpa penjelasan, tanpa pamitan. Nomornya tak aktif. Akun media sosialnya lenyap. Yang tersisa hanyalah jejak digital yang berhantu. Mimpi tentangnya terasa begitu nyata hingga aku terbangun dengan air mata yang membasahi bantal. Aku mencoba menjaga jarak. Membangun tembok tinggi di sekeliling hatiku. Tapi *kenangan* adalah peretas ulung. Ia menembus pertahanan dengan mudah, meretas hatiku setiap malam. Aku berdarah, Lin Wei. Aku berdarah tanpa bisa menghentikan pendarahannya. Aku menyelidiki. Diam-diam mengumpulkan kepingan puzzle yang dia tinggalkan. Temanku, Jia, seorang *hacker* handal, membantuku menggali informasi. Sebuah nama muncul berulang kali: *Shen Yue*. Seorang pengusaha kaya dengan koneksi ke mana-mana. Mantan kekasih Lin Wei. Rahasia itu pahit seperti kopi tanpa gula. Lin Wei melarikan diri. Bukan dariku, tapi dari Shen Yue. Dia terlibat dalam bisnis kotor, dan Lin Wei menjadi saksi kunci. Demi melindungiku, dia memilih menghilang. Meninggalkanku dalam kebingungan dan rasa sakit. Selama berbulan-bulan, aku merencanakan balas dendam. Bukan balas dendam yang brutal, tapi *balas dendam yang ELEGAN*. Balas dendam yang akan membuatnya merasakan apa yang kurasakan. Aku menggunakan informasi yang dikumpulkan Jia untuk mengungkap kebusukan Shen Yue. Aku menyebarkannya ke media. Dalam hitungan jam, bisnisnya hancur. Reputasinya tercemar. Kekuatannya lenyap. Akhirnya, saat matahari terbit di Jakarta yang berkabut, aku mengirimkan pesan terakhir. Pesan singkat, tanpa emosi. Hanya sebuah tautan berita tentang kejatuhan Shen Yue. Kemudian, aku tersenyum. Senyum kecil, namun penuh kemenangan. Aku tahu dia akan melihatnya. Aku tahu dia akan mengerti. Keputusanku? Meninggalkannya. Bukan karena aku tak mencintainya. Justru karena aku terlalu mencintainya. Aku tak bisa hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan rahasia. Aku butuh kebebasan. Aku menutup ponselku. Menghirup aroma kopi yang menenangkan. Berjalan menjauh dari masa lalu. Udara terasa dingin. Kepergiannya, kehilangannya... **membuatku mengerti bahwa cinta sejati terkadang berarti membiarkan pergi.** Dan aku membiarkannya pergi... bersama semua kebohongan dan rahasianya.
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Bisnis Rumahan

0 Comments: