## Janji yang Diucapkan di Antara Mayat Hujan kota membasahi kaca apartemen, serupa air mata yang enggan jatuh sepenuhnya. Aroma kopi pahit ...

Endingnya Gini! Janji Yang Diucapkan Di Antara Mayat Endingnya Gini! Janji Yang Diucapkan Di Antara Mayat

Endingnya Gini! Janji Yang Diucapkan Di Antara Mayat

Endingnya Gini! Janji Yang Diucapkan Di Antara Mayat

## Janji yang Diucapkan di Antara Mayat Hujan kota membasahi kaca apartemen, serupa air mata yang enggan jatuh sepenuhnya. Aroma kopi pahit mengepul, menari-nari di udara, *mengejek* kesepian yang menggerogoti. Di layar ponsel, notifikasi berkedip tanpa ampun. Bukan pesanmu. Bukan *lagi*. Dulu, notifikasi darimu adalah senyumku. Dulu, hujan adalah alasan untuk mendekat. Dulu, kopi adalah ritual berbagi rahasia. Sekarang? Hanya sisa. Sisa chat yang tak terkirim, sisa kenangan yang tak terhapus, sisa mimpi yang patah di persimpangan jalan yang kau pilih. Kita bertemu di dunia maya, di antara *emotikon* dan balasan cepat. Cinta kita tumbuh subur di antara notifikasi tengah malam dan janji-janji yang diucapkan dengan jari. Kau bilang, cintamu abadi, seluas **INTERNET**, sedalam **SAMUDRA**. Bohong. Kehilangan ini samar. Seperti bayangan yang selalu mengintai di sudut mata. Seperti melodi yang terus terngiang di kepala, tanpa bisa kuhentikan. Aku tidak mengerti, bagaimana bisa cinta sekuat ini tiba-tiba menjadi abu? Bagaimana bisa kau menghilang tanpa jejak, meninggalkan aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di udara seperti asap rokok bekas? Misteri ini, perlahan, mulai terkuak. Bukan lewat kata-kata, bukan lewat pesan terakhir. Melainkan lewat mata orang lain. Mata yang menyimpan rahasia yang kau sembunyikan dengan begitu rapi. Rahasia tentangnya. Tentang alasan mengapa kau pergi. Tentang janji yang kau ucapkan bukan hanya padaku. Dia, bayangan itu, adalah masa lalumu. Masa lalu yang kau bawa bersamamu, seperti kutukan yang tak terhindarkan. Dan aku, bodohnya, berpikir bahwa aku adalah masa depanmu. Aku adalah *mimpi* yang kau inginkan. Kini, aku berdiri di hadapan makammu. Hujan masih turun, lebih deras dari sebelumnya. Aku tidak menangis. Air mata ini sudah lama habis. Aku hanya membawa satu *pesan terakhir*. Bukan ucapan maaf. Bukan ungkapan cinta. Melainkan sebuah keputusan. Sebuah balas dendam yang lembut. Aku menghapus nomormu. Aku menghapus semua foto kita. Aku menghapus semua kenangan tentangmu. Aku membiarkanmu menjadi debu, seperti janjimu yang sudah lama sirna. Aku tersenyum. Senyum *terakhir*. Aku pergi. Dan ruangan itu, dipenuhi aroma kopi pahit dan kesunyian yang abadi, menyisakan jejak aroma hujan dan satu pesan di layar ponsel yang akhirnya terkirim: "Selamat tinggal, cintaku. Semoga kau bahagia di alam sana. Dan semoga dia seberuntung aku." ... atau tidak.
You Might Also Like: Reseller Skincare Usaha Sampingan

0 Comments: