Baik, ini dia kisah dracin intens yang kamu minta, dengan suasana berat dan penuh ketegangan, cinta dan kebencian, rahasia lama, deskripsi puitis, balas dendam yang tenang, dan penutup menggantung: **Bayangan yang Mencintai Musuh Lama** Malam di Lembah Serigala membekukan tulang. Salju turun seperti serpihan pisau, menyelimuti tanah yang basah oleh darah. Di tengah kekacauan itu, berdiri seorang wanita. Lin Yue. Bayangan matanya, sedalam jurang yang tak berdasar, menutupi bara api yang siap membakar dunia. Di hadapannya, terikat di tiang kayu yang kasar, berdiri pria itu. Wang Jun. Musuhnya. *Cintanya.* Masa lalu yang ia coba kubur dalam-dalam, kini hadir, memaksanya untuk mengakui kenyataan pahit. "Dulu… aku membencimu," bisik Lin Yue, suaranya serak dan nyaris tak terdengar di tengah deru angin. "Membenci setiap hembusan nafasmu. Membenci setiap detik yang kau curi dari kebahagiaanku." Wang Jun hanya menatapnya, matanya yang gelap memancarkan rasa sakit dan penyesalan. "Dulu… aku tidak punya pilihan." Dupa terbakar di altar kecil di samping Lin Yue. Aroma pahitnya bercampur dengan bau anyir darah, menciptakan aroma **KEMATIAN** yang pekat. Air mata mengalir di pipinya, membasahi debu dan abu yang menempel di sana. "Pilihan?" Lin Yue tertawa getir. "Kau pikir membunuh keluargaku adalah sebuah 'pilihan'? Membiarkanku hidup dalam kesendirian adalah 'pilihan'?" *FLASHBACK*. Lin Yue kecil berlari di antara bunga sakura yang berguguran. Tawa riangnya memecah keheningan pagi. Di kejauhan, ia melihat Wang Jun, seorang anak laki-laki yang selalu mengawasinya. Dulu, mereka adalah sahabat. Dulu… sebelum *pengkhianatan* itu terjadi. "Aku ingat janjimu," lanjut Lin Yue, suaranya bergetar. "Kau berjanji akan melindungiku. Kau berjanji… akan selalu ada di sisiku." Wang Jun terdiam. Bayangan penyesalan tampak jelas di wajahnya. Ia tahu, kata-kata tidak akan mampu menghapus dosa-dosanya. "Aku tahu apa yang kau lakukan," bisik Lin Yue, mendekatkan wajahnya ke wajah Wang Jun. "Aku tahu siapa yang memerintahkanmu. Ayahku… adalah target utama mereka." Rahasia itu terungkap. Di malam yang dingin dan berdarah itu, kebenaran akhirnya terkuak. Keluarga Lin hancur bukan karena perang, tetapi karena konspirasi keji yang melibatkan orang-orang terdekat mereka. *Darah* menetes dari bibir Wang Jun, membeku di janggutnya. Lin Yue mengusap air mata, dan mengambil sebilah pisau dari altar. "Kau tahu, Wang Jun?" bisiknya, suaranya nyaris mendesis. "Balas dendam terbaik adalah balas dendam yang dingin." Dengan gerakan anggun yang mematikan, Lin Yue menggorok leher Wang Jun. Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan. Hanya keheningan. Lin Yue berbalik, meninggalkan mayat Wang Jun yang membeku di tiang kayu. Ia berjalan menuju kegelapan, bayangannya memanjang di atas salju yang berlumuran darah. Balas dendamnya selesai. Tapi… **APAKAH** hatinya benar-benar tenang? Di Lembah Serigala yang sunyi, suara serigala melolong memecah kesunyian. Di balik gumpalan salju, terlihat sepasang mata merah menyala, menatap kepergian Lin Yue. *SEBUAH AWAL YANG BARU*… untuk *PEMBALASAN YANG SESUNGGUHNYA*… Kemudian, hanya ada keheningan yang menakutkan. *Dan bisikan angin yang membawa janji: "Dia tidak akan lolos."*
You Might Also Like: 144 Phoenix Club Graham Central Station

0 Comments: