Hujan kota Jakarta tumpah ruah malam itu, memburamkan layar ponselku. Setiap tetesnya seperti ingatan, menari-nari di atas kaca, membawa ar...

Dracin Seru: Aku Menjadi Notifikasi Hati Yang Tak Pernah Diabaikan Dracin Seru: Aku Menjadi Notifikasi Hati Yang Tak Pernah Diabaikan

Dracin Seru: Aku Menjadi Notifikasi Hati Yang Tak Pernah Diabaikan

Dracin Seru: Aku Menjadi Notifikasi Hati Yang Tak Pernah Diabaikan

Hujan kota Jakarta tumpah ruah malam itu, memburamkan layar ponselku. Setiap tetesnya seperti ingatan, menari-nari di atas kaca, membawa aroma kopi dari kafe yang dulu sering kita datangi. Notifikasi berdering. Bukan darimu. Lagi.

Dulu, ponselku berdenting setiap detik karenamu. Pesan singkat, foto lucu, stiker konyol. Aku tahu, aku adalah notifikasi yang tak pernah kau abaikan. Aku adalah prioritas. Tapi itu dulu. Sekarang, aku hanyalah sisa chat yang tak terkirim, tersimpan rapi di draft, sebuah monumen bisu untuk cinta yang gagal.

Namamu, ARYA, masih bertengger manis di kontakku. Profilmu, foto kita berdua saat liburan di Bali, masih enggan kulepaskan. Sebuah kebodohan yang kuteguk setiap hari, seiring pahitnya kopi hitam tanpa gula.

Kehilangan itu samar. Seperti kabut tipis di pagi hari, hadir namun tak kasat mata. Aku tahu ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang berharga. Tapi apa? Mengapa? Kau pergi tanpa penjelasan, meninggalkan aku terombang-ambing di lautan pertanyaan.

Kita punya mimpi, Arya. Rumah kecil di pinggir kota, kebun bunga matahari, dan dua anak lucu yang mewarisi senyummu. Mimpi yang kini terasa seperti debu, beterbangan terbawa angin.

Misteri hubungan kita yang belum selesai, seperti benang kusut yang semakin rumit. Teman-temanmu bilang kau baik-baik saja, melanjutkan hidup. Tapi aku? Aku masih terjebak di masa lalu, memutar ulang setiap percakapan, mencari petunjuk yang terlewat.

Lalu, malam itu, sebuah nama muncul di ponselmu saat aku tanpa sengaja meminjamnya. Alya. Sebuah notifikasi pop-up yang singkat, namun membakar seluruh hatiku. Sebuah nama yang menjelaskan segalanya.

Alya. Teman masa kecilmu. Cinta pertamamu. Rahasia yang kau simpan rapat-rapat.

Aku menggenggam erat ponsel itu, air mata bercampur dengan hujan di pipiku. Sakit. Sangat sakit. Tapi aku tidak berteriak. Aku tidak marah. Aku hanya merasakan kekosongan.

Inilah balas dendamku. Bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan drama air mata. Balas dendamku adalah dengan keheningan.

Aku mematikan ponselmu. Menghapus semua foto kita. Memblokir nomormu. Dan yang terpenting, aku menghapusmu dari hatiku.

Aku meninggalkan kafe itu, berjalan di tengah derasnya hujan. Aku tidak menoleh ke belakang. Aku tidak menyesal.

Sebelum benar-benar pergi, aku meninggalkan pesan terakhir di pesan yang tak pernah terkirim. "Terima kasih atas kenangan manis dan pahitnya, Arya. Aku harap kamu bahagia."

Aku tersenyum. Senyum terakhirku untukmu. Senyum yang tidak akan pernah kau lihat lagi.

Aku melangkah maju. Meninggalkan semuanya di belakang. Meninggalkanmu. Meninggalkan Alya. Meninggalkan kota ini.

Dunia terus berputar. Aku akan memulai lembaran baru. Aku akan menjadi notifikasi hati seseorang yang benar-benar menghargaiku.

Dan kau, Arya?

Kau akan selalu bertanya-tanya, mengapa aku tidak pernah menghubungimu lagi...

You Might Also Like: 0895403292432 Agen Kosmetik Supplier

0 Comments: