Aku Menatap Perang Berakhir, Tapi Hatiku Belum Berdamai
Embun pagi merayapi kelopak peony yang baru merekah. Di balik kabut tipis, aku menatap Bukit Seribu Makam. Perang telah usai, para jenderal saling menjabat tangan di bawah panji kemenangan, tapi di mataku, hanya ada abu. Abu dari mimpi yang dibakar, abu dari cinta yang dikhianati, abu dari kebohongan yang terjalin menjadi permadani indah, namun beracun.
Aku, Lian Mei, adalah perempuan yang hidup dalam dua dunia. Di siang hari, aku adalah putri bangsawan, anggun dan terhormat. Di malam hari, aku adalah bayangan yang menyelinap di antara lorong gelap istana, mencari sisa-sisa kebenaran.
Dia, Jenderal Zhao Yunlan, adalah pria yang hidup dalam satu kebohongan. Pahlawan perang yang diagungkan, kekasih hatiku yang terkasih. Tapi dia juga adalah orang yang mengkhianati ayahku, menjebaknya dalam konspirasi, dan membuatnya mati dalam kehinaan.
"Lian Mei," bisiknya, suaranya serak oleh debu dan kemenangan. Dia memelukku erat, tapi aku merasakan ada jurang yang menganga di antara kita. Jurang yang dipenuhi dengan kata-kata yang tak terucap, rahasia yang dipendam, dan KEBOHONGAN yang merajalela.
Aku membalas pelukannya, senyumku adalah topeng. "Yunlan, selamat atas kemenanganmu."
Setiap hari, aku semakin dekat dengan kebenaran. Aku menemukan surat-surat rahasia, saksi yang terbungkam, dan potongan-potongan teka-teki yang perlahan membentuk gambaran yang mengerikan. Zhao Yunlan bukanlah pahlawan. Dia adalah bidak dalam permainan kekuasaan yang lebih besar, dan ayahku adalah tumbalnya.
Konflik dalam diriku membakar seperti api. Aku mencintai Zhao Yunlan, sangat mencintainya hingga rasanya sakit. Tapi cinta ini tercemar oleh darah dan pengkhianatan. Aku tahu, aku harus memilih. Cinta, atau keadilan.
Puncak dari semuanya terjadi di Festival Purnama. Di bawah cahaya bulan yang memudar, aku berdiri di hadapannya, memegang bukti yang tak terbantahkan. Surat perintah palsu, kesaksian dari seorang pengkhianat, dan pengakuan dari Zhao Yunlan sendiri – yang tertulis dalam surat yang dikirimkan pada malam ayahku ditangkap.
"Ini?" tanyaku, suaraku setenang air danau yang dalam.
Dia menatapku dengan tatapan yang terluka. "Lian Mei, percayalah padaku. Aku melakukan ini untukmu."
"Untukku?" Aku tertawa, tawa yang pahit dan hancur. "Kau menghancurkan hidupku, Zhao Yunlan. Kau membunuh ayahku, dan kau pikir kau melakukannya untukku?"
Dia mencoba menjelaskan, merayu, bahkan berlutut. Tapi aku tidak bisa lagi mendengarkannya. Hatiku telah mati.
Balas dendamku tidak akan datang dalam bentuk teriakan atau pertumpahan darah. Aku akan mengambil segala yang dia miliki, perlahan dan pasti, hingga dia tidak memiliki apa pun kecuali penyesalan.
Aku memberikan bukti itu kepada Kaisar. Zhao Yunlan dilucuti dari jabatannya, dipenjara, dan dihukum karena pengkhianatan. Aku menyaksikan semuanya dengan tenang, tanpa emosi.
Beberapa bulan kemudian, aku mengunjunginya di penjara. Dia kurus dan pucat, bayangan dari pria yang dulu kukenal.
"Mengapa?" tanyanya, suaranya hanya bisikan.
Aku tersenyum, senyum yang dingin dan mematikan. "Aku mencintaimu, Yunlan. Tapi aku lebih mencintai keadilan. Dan keadilan menuntut nyawamu."
Aku meninggalkan penjara, meninggalkan Zhao Yunlan dalam kegelapan. Aku tahu, dia akan segera dieksekusi. Balas dendamku telah selesai. Tapi hatiku masih belum berdamai.
Aku menatap Bukit Seribu Makam, tempat abu ayahku bersemayam. Aku telah membalas dendam, tapi aku masih merasa kosong. Mungkin, kebenaran tidak selalu membawa kedamaian. Mungkin, beberapa luka terlalu dalam untuk disembuhkan.
Aku berbalik, meninggalkan Bukit Seribu Makam. Perang telah berakhir, tapi perang dalam diriku baru saja dimulai.
Aku tersenyum, senyum yang menyimpan perpisahan abadi.
Apakah ini akhir dari segalanya, atau awal dari mimpi buruk yang lain?
You Might Also Like: Perbedaan Sunscreen Mineral Lokal
0 Comments: