Sunyi menyelimuti Paviliun Anggrek, seolah ikut berduka atas kematian seorang putri. Lin Mei, dulunya adalah Putri Mahkota yang diagungkan,...

TOP! Mahkota Yang Jatuh Bersama Nama TOP! Mahkota Yang Jatuh Bersama Nama

Sunyi menyelimuti Paviliun Anggrek, seolah ikut berduka atas kematian seorang putri. Lin Mei, dulunya adalah Putri Mahkota yang diagungkan, kini hanya bayangan di antara pilar-pilar merah. Cinta dan kekuasaan, dua pedang bermata dua, telah meluluhlantakkannya. Ia telah menyerahkan segalanya pada Kaisar muda, kekasihnya, Li Wei. Namun, Li Wei menginginkan lebih: tahta yang utuh tanpa pesaing. Lin Mei, dengan darah bangsawan mengalir deras dalam nadinya, dianggap ancaman. Di malam pernikahan mereka, racun perlahan membunuhnya, mengakhiri bukan hanya hidupnya, tapi juga NAMANYA.

Enam tahun berlalu. Di balik tabir sutra, seorang wanita muncul. Bukan lagi Lin Mei yang lemah dan penuh cinta, melainkan Mei Lan, kepala penjahit istana yang misterius. Wajahnya masih menyimpan kelembutan masa lalu, namun matanya memancarkan ketenangan yang MEMATIKAN. Luka masa lalu telah ditempa menjadi zirah, keindahan yang tersisa diasah menjadi senjata. Ia tahu, balas dendam bukan tentang amarah membabi buta, melainkan tentang KETERATURAN dan KESABARAN. Bunga lotus pun tumbuh subur di lumpur.

Mei Lan menjadi hantu di istana. Dengan jarum dan benangnya, ia menyusup ke dalam kehidupan Kaisar Li Wei dan permaisurinya, selangkah demi selangkah merajut kehancuran mereka. Gaun yang indah ternyata menyimpan racun yang perlahan melemahkan kesehatan permaisuri. Bordiran yang rumit menyembunyikan pesan yang menghasut para selir istana untuk saling bermusuhan. Tiap tusukan jarum adalah kenangan, tiap helai benang adalah rencana.

Li Wei, yang dulu penuh semangat dan kekuasaan, kini diliputi paranoia. Bayangan Lin Mei menghantuinya di setiap sudut istana. Ia melihat tatapan dingin Mei Lan, mendengar namanya dalam bisikan angin. Ia tahu, wanita itu menginginkan sesuatu darinya, tapi ia tidak tahu apa. KETAKUTANNYA adalah kekuatannya.

Puncak dari balas dendam Mei Lan tiba saat perayaan ulang tahun Kaisar. Gaun kebesaran Kaisar, yang ia rancang sendiri, adalah panggung terakhir. Di bawah sorot lampu, di hadapan seluruh istana, Li Wei tumbang. Bukan karena racun, bukan karena senjata, melainkan karena KEHILANGAN. Mei Lan membongkar semua kejahatannya, memperlihatkan wajah aslinya di hadapan para menteri dan rakyat. Kaisar Li Wei kehilangan tahta, nama baik, dan pada akhirnya, nyawanya.

Mei Lan berdiri di tangga istana, menatap matahari terbit. Ia telah merebut kembali apa yang telah direnggut darinya, bukan dengan amarah, melainkan dengan ketenangan seorang ratu. Ia telah membuktikan bahwa kelembutan bisa menjadi kekuatan, luka bisa menjadi keindahan.

Dan kini, dengan kain sutra berwarna darah di tangannya, ia akan memulai babak baru, karena DIRINYA-lah mahkota sejati, yang telah lama tersembunyi di balik kerudung kematian, dan kini, ia akan memerintah dengan cara yang berbeda...

You Might Also Like: Endingnya Gini Aku Adalah Data Yang Ia

Hujan menggigil di lembah terpencil itu, persis seperti kenangan yang menusuk jantung Lianhua. Setiap tetesnya seolah mencerminkan air mata...

Cerita Seru: Pedang Yang Mengenali Luka Lama Cerita Seru: Pedang Yang Mengenali Luka Lama

Hujan menggigil di lembah terpencil itu, persis seperti kenangan yang menusuk jantung Lianhua. Setiap tetesnya seolah mencerminkan air mata yang pernah ia tumpahkan, air mata karena cinta yang dikhianati, air mata karena janji yang dipatahkan. Lima belas tahun telah berlalu sejak malam itu, malam ketika pedang Yuanfeng, yang seharusnya menjadi saksi cinta mereka, justru menjadi saksi bisu pengkhianatan Yuze.

Lianhua menatap lentera di tangannya. Cahayanya nyaris padam, berjuang melawan angin malam. Sama seperti hatinya, yang dahulu dipenuhi kehangatan, kini hanya tersisa bara redup yang menyimpan dendam.

Di seberang lembah, sosok Yuze muncul dari balik kabut. Wajahnya yang dulu tampan kini dipenuhi kerutan, mata yang dulu berbinar cinta kini dipenuhi penyesalan. Dia memanggil nama Lianhua dengan suara serak.

"Lianhua... sudah lama sekali."

Lianhua tidak menjawab. Ia hanya menggenggam erat pedang pusakanya, Pedang Malam. Dulu, Yuze selalu memujinya sebagai pedang yang 'mengenali luka lama'. Sekarang, pedang itu akan MEMBALASKANNYA.

"Aku tahu... aku tahu aku salah. Aku tahu aku telah menghancurkan segalanya," lanjut Yuze, suaranya bergetar. "Tapi kumohon, Lianhua, berilah aku kesempatan untuk menebusnya."

Lianhua tersenyum pahit. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Menebus? Dengan apa? Dengan janji palsu lainnya?"

Bayangan mereka menari-nari di tanah yang basah. Bayangan yang patah, terpisah oleh jurang pengkhianatan yang tak terperi.

"Kau tidak mengerti, Lianhua! Aku terpaksa! Mereka... mereka mengancam nyawaku!"

"Nyawamu?" Lianhua tertawa sinis. "Dan bagaimana dengan nyawaku? Bagaimana dengan hatiku? Apakah itu tidak berarti apa-apa bagimu?"

Lianhua melangkah maju, pedang Malam berkilauan di bawah cahaya lentera yang sekarat. "Kau tahu, Yuze, setiap malam aku bermimpi tentang hari ini. Hari di mana aku bisa membalas sakit hatiku. Hari di mana Pedang Malam ini akan mengenali luka lama yang kau torehkan."

Yuze mundur ketakutan. "Lianhua... jangan lakukan ini! Kita bisa membicarakan ini!"

Lianhua mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Angin bergemuruh, membawa aroma kematian dan kesedihan. "Terlalu lama aku menunggu, Yuze. Terlalu lama aku menderita dalam diam. Sekarang... giliranku."

Saat pedang Malam menebas udara, menerjang ke arah Yuze, Lianhua berbisik, "Kau tidak akan pernah tahu alasan sebenarnya aku kembali... karena bukan hanya pengkhianatanmu yang ingin kubalas, tapi juga... darah Ayahku yang mengalir di tanganmu!"

You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Rahasia Yang Ditanam

Hujan kota Jakarta membasahi kaca jendela apartemen. Gemerisik air yang jatuh seolah menertawakan kesendirian Anya. Layar ponselnya menyala...

Cerpen Keren: Cinta Yang Menuntut Darah Cerpen Keren: Cinta Yang Menuntut Darah

Hujan kota Jakarta membasahi kaca jendela apartemen. Gemerisik air yang jatuh seolah menertawakan kesendirian Anya. Layar ponselnya menyala, menampilkan sisa obrolan yang tak terkirim pada Kai. Kata-kata itu mengendap seperti ampas kopi pahit, meninggalkan jejak yang tak mungkin dihapus.

Anya dan Kai. Kisah mereka dimulai dari notifikasi. Saling menyukai foto di Instagram, bertukar komentar sarkastik, lalu berlanjut ke chat tengah malam yang membicarakan mimpi dan ketakutan. Cinta itu tumbuh subur di antara emoji dan GIF, di antara screenshot lagu favorit dan rekomendasi film.

Namun, seperti semua kisah cinta, ada rahasia yang mengintai di balik senyum dan tawa. Kai, dengan mata gelapnya yang selalu menyimpan mendung, menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang terasa seperti bom waktu, siap meledak kapan saja.

Anya mencium aroma kopi yang diseduhnya sendiri. Aroma itu mengingatkannya pada Kai, pada kafe kecil di Senopati tempat mereka pertama kali bertemu. Di sana, di bawah lampu temaram, Kai bercerita tentang masa lalunya yang kelam, tentang keluarga yang terlilit hutang, tentang ancaman yang selalu membayangi.

"Aku harus pergi, Anya," ucap Kai suatu malam, suaranya berat. "Aku tidak bisa membawamu ke dalam masalahku."

Anya menggenggam tangannya. "Aku tidak takut, Kai. Aku bersamamu."

Namun, Kai tetap pergi. Menghilang tanpa jejak. Hanya menyisakan pesan singkat di ponsel Anya: Maaf.

Hari-hari Anya dipenuhi oleh KEHILANGAN yang samar. Ia terus mencari Kai, mengikuti setiap petunjuk yang mungkin ditinggalkannya. Ia mendatangi tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, berharap menemukan secercah harapan.

Sampai akhirnya, ia menemukan kebenaran. Kebenaran yang pahit dan menyakitkan. Kai terlibat dalam dunia hitam, dunia yang menuntut darah sebagai imbalan atas kebebasan. Ia melarikan diri untuk melindungi Anya, untuk menjauhkannya dari bahaya.

Rasa sakit Anya berubah menjadi amarah. Ia tidak ingin menjadi korban. Ia ingin membalas dendam, bukan dengan kekerasan, tapi dengan cara yang lebih halus, lebih menyakitkan.

Anya menggunakan semua pengetahuannya tentang Kai, tentang kelemahannya, tentang orang-orang yang ingin menjatuhkannya. Ia menyusun rencana yang sempurna, sebuah balas dendam yang lembut.

Beberapa bulan kemudian, Anya menghadiri sebuah acara amal mewah. Ia mengenakan gaun hitam yang elegan, rambutnya ditata rapi, matanya memancarkan kepercayaan diri. Di sana, di tengah kerumunan orang, ia melihatnya. Kai.

Kai menatap Anya dengan tatapan BERSALAH. Ia ingin mendekat, menjelaskan, meminta maaf. Tapi Anya hanya tersenyum, senyum yang dingin dan mematikan.

Ia berjalan mendekat, berbisik di telinganya, "Aku tahu semuanya, Kai. Dan kau tahu, kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku."

Anya meninggalkan Kai di sana, berdiri mematung di tengah keramaian. Ia keluar dari gedung, masuk ke dalam taksi, dan menyalakan ponselnya.

Ia mengetik sebuah pesan. Pesan terakhir.

Selamat tinggal, Kai. Ini adalah akhir dari segalanya.

Anya menekan tombol kirim. Lalu, ia mematikan ponselnya dan menatap keluar jendela. Hujan kota masih turun, membasahi segalanya.

Ia merasa kosong, namun puas.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tapi ia tahu, Kai tidak akan pernah melupakannya…

You Might Also Like: Cara Sunscreen Mineral Lokal Harga

Kabut Sungai Kuning menggantung rendah, menyelimuti Lembah Anggrek dengan kerudung perak. Di sanalah, di antara reruntuhan paviliun yang di...

Cerpen: Kau Mencariku Dalam Mimpi, Tapi Aku Hanya Datang Dalam Mimpi Burukmu Cerpen: Kau Mencariku Dalam Mimpi, Tapi Aku Hanya Datang Dalam Mimpi Burukmu

Kabut Sungai Kuning menggantung rendah, menyelimuti Lembah Anggrek dengan kerudung perak. Di sanalah, di antara reruntuhan paviliun yang dicat ulang dengan kenangan, kita bertemu. Bukan di dunia nyata, tapi di antara selubung mimpi, di mana waktu menari tanpa irama.

Kau, Putri Bulan, dengan gaun sutra selembut embun pagi, matamu memancarkan rindu yang tak terucapkan. Kau mencariku dalam setiap mimpi, memanggil namaku yang terlupakan, menyisir benang-benang takdir yang kusut.

Namun, aku? Aku hanyalah Bayangan Malam, datang bukan sebagai jawaban atas doamu, melainkan sebagai mimpi buruk yang menghantui lelapmu. Aku muncul dalam kilatan pedang yang berlumuran darah mawar, dalam bisikan angin yang membawa ratapan klan yang binasa, dalam setiap tetes air mata yang kau sembunyikan di balik senyummu yang rapuh.

Kau melukis wajahku di atas kain sutra, setiap goresan kuas adalah doa yang terucap. Aku melihat lukisan itu, terasa familiar, seolah aku pernah menghabiskan ribuan musim semi di dekatmu, berbagi teh pahit di bawah pohon persik yang bermekaran. Namun, sentuhan DINGIN lukisan itu membangunkanku – ITU BUKAN WAJAHKU.

Kita terperangkap dalam dimensi waktu yang aneh. Kau hidup di masa lampau yang penuh kemuliaan, aku tersesat di masa depan yang penuh kehancuran. Jembatan mimpi adalah satu-satunya penghubung kita, jembatan yang rapuh dan berbahaya. Setiap kali kau mencoba menyeberang, aku berusaha menjauh, karena sentuhanku hanya akan membawakan kegelapan.

Suatu malam, saat bulan purnama menggantung seperti koin perak di langit beludru, kau menemukanku. Bukan dalam mimpi, melainkan di balik cermin tua yang berdebu di paviliun terlarang. Di sana, bayangan kita tumpang tindih. Aku melihat matamu, bukan mata Putri Bulan yang penuh rindu, melainkan mata seorang JENDERAL PERANG yang penuh luka dan dendam.

PENGUNGKAPAN: Cermin itu bukanlah sekadar cermin. Itu adalah celah waktu. Kau, Putri Bulan, bukanlah orang yang selama ini kucari. Kau adalah reinkarnasi dari musuh bebuyutanku, jenderal perang yang menghancurkan klanku ratusan tahun lalu. Mimpiku bukan tentang cinta, melainkan tentang pembalasan. Mimpi burukku adalah KEBENARAN yang selama ini aku hindari.

Keindahan kisah ini, ironisnya, adalah tragedinya. Cinta yang terasa nyata ternyata hanya ilusi dari dendam yang membara.

"... Darahmu akan membayar utang klanku yang hilang..."

You Might Also Like: Dracin Seru Kau Datang Dengan Sepeda

Angin musim semi berdesir lembut di taman teratai, membawa aroma harum yang familier, menusuk hingga ke relung jiwa. Lin Yue, seorang peluk...

Drama Seru: Pelukan Yang Menghangatkan Duka Drama Seru: Pelukan Yang Menghangatkan Duka

Angin musim semi berdesir lembut di taman teratai, membawa aroma harum yang familier, menusuk hingga ke relung jiwa. Lin Yue, seorang pelukis muda yang sedang naik daun, tertegun di depan kolam yang dipenuhi bunga-bunga MERAH muda pucat. Bunga-bunga itu… terasa akrab, seolah ia pernah berenang di antara kelopaknya, seratus tahun lalu.

Ia merasakan sentuhan di bahunya. Seseorang memanggil namanya, "Lin Yue?"

Suara itu! Suara bariton yang dalam dan hangat, suara yang selalu menghantuinya dalam mimpi. Ia menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di belakangnya. Pria itu tinggi, dengan mata setajam elang dan senyum yang menyayat hati. Namanya adalah Zhang Wei, seorang ahli waris konglomerat yang disegani, dan entah mengapa, kehadiran pria itu membuat Lin Yue merasa aman, sekaligus terancam.

Sejak pertemuan pertama mereka, Lin Yue dihantui penglihatan-penglihatan aneh. Kilasan kehidupan masa lalu yang penuh intrik, pengkhianatan, dan cinta terlarang. Ia melihat dirinya, bukan sebagai pelukis muda, tetapi sebagai selir kesayangan seorang jenderal perang yang kejam. Ia melihat Zhang Wei, bukan sebagai ahli waris konglomerat, tetapi sebagai jenderal itu sendiri.

Di kehidupan lampau, mereka terikat dalam janji abadi, janji yang dilanggar oleh dosa dan keserakahan. Jenderal itu telah mengkhianati cintanya, membunuhnya karena fitnah dan ambisi politik. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia bersumpah akan kembali dan menagih janji yang terkhianati.

Lin Yue berusaha keras menekan ingatan-ingatan itu. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah mimpi buruk, buah imajinasinya. Namun, Zhang Wei selalu ada di dekatnya, bagai bayangan yang tak terpisahkan. Ia selalu tahu apa yang dirasakan Lin Yue, bahkan sebelum Lin Yue sendiri menyadarinya.

Suatu malam, di bawah rembulan purnama, Zhang Wei membawanya ke sebuah kuil kuno yang terpencil. Di sana, ia menceritakan kisah yang identik dengan penglihatan-penglihatan Lin Yue. Ia mengakui dosa masa lalunya, beban yang telah dipikulnya selama seratus tahun.

"Aku tahu, Lin Yue," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku tahu apa yang kulakukan padamu. Aku tahu janji yang kubuat dan kubiarkan kau menderita sendirian."

Lin Yue menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Dendam berkobar dalam hatinya, namun anehnya, yang ia rasakan lebih dominan adalah kesedihan. Kesedihan mendalam atas cinta yang hilang, atas kehidupan yang dicuri.

Ia mengangkat tangannya, bukan untuk menampar, bukan untuk mencaci, tetapi untuk memeluknya. Pelukan yang erat, pelukan yang panjang, pelukan yang mengalirkan seluruh duka dan kemarahan masa lalu.

"Aku sudah memaafkanmu," bisiknya lirih, suaranya hampir tak terdengar. "Bukan karena kau pantas dimaafkan, tetapi karena dendam hanya akan memperpanjang penderitaan kita."

Zhang Wei memeluknya lebih erat, air mata membasahi bahu Lin Yue. Ia tahu, pengampunan Lin Yue adalah hukuman yang paling berat baginya. Ia telah merenggut nyawa seorang wanita, dan sekarang, ia harus hidup dengan kenyataan bahwa wanita itu telah memilih untuk melepaskannya dari rantai masa lalu.

Lin Yue melepaskan pelukannya. Ia menatap Zhang Wei dengan tatapan tenang dan damai.

"Pergilah," ucapnya. "Jalani hidupmu. Jangan biarkan masa lalu menghantuimu lagi."

Zhang Wei mengangguk, tanpa berkata apa-apa. Ia berbalik dan berjalan menjauh, menghilang dalam kegelapan malam.

Lin Yue menatap punggungnya yang menjauh. Ia tahu, perpisahan ini adalah akhir dari satu siklus dan awal dari yang baru. Ia tidak lagi terikat pada masa lalu. Ia bebas.

Ia menoleh ke arah kolam teratai, bunga-bunga merah muda pucat itu tampak bersinar lebih terang di bawah rembulan.

Apakah kau ingat… Janji kita di bawah pohon sakura?

You Might Also Like: 0895403292432 Distributor Skincare

Janji yang Tak Pernah Ditulis Tapi Diingkari Langit Shanghai malam itu memantulkan gemerlap kota ke dalam mata Jing Wei. Gaun sutra merahn...

Ini Baru Cerita! Janji Yang Tak Pernah Ditulis Tapi Diingkari Ini Baru Cerita! Janji Yang Tak Pernah Ditulis Tapi Diingkari

Janji yang Tak Pernah Ditulis Tapi Diingkari

Langit Shanghai malam itu memantulkan gemerlap kota ke dalam mata Jing Wei. Gaun sutra merahnya bagai kobaran api di tengah keramaian pesta. Senyumnya, SENYUM yang selalu menghiasi wajahnya, malam itu terasa lebih dingin, lebih jauh. Senyum itu, dulu, hanya untuk satu orang: Li Wei, pria yang berdiri beberapa meter darinya, tertawa bersama seorang wanita lain.

Lima tahun lalu, di bawah pohon sakura yang bermekaran di Kyoto, Li Wei berjanji. Janji yang tidak pernah tertulis di atas kertas, tidak terucap dengan lantang di hadapan saksi. Janji yang hanya terukir di hati mereka, terikat oleh tatapan mata yang penuh cinta. Janji untuk selamanya.

Kini, selamanya itu terasa seperti pasir yang mengalir di antara jemari.

Jing Wei menyesap anggurnya, merasakan cairan pahit itu mengalir di kerongkongannya, sama pahitnya dengan kenyataan di hadapannya. Pelukan Li Wei, dulu terasa hangat dan melindungi, kini terasa beracun. Sentuhannya, yang dulu membangkitkan getar bahagia, kini bagai belati yang menusuk jantungnya perlahan.

Dia ingat bagaimana Li Wei menatapnya dulu. Mata yang penuh kekaguman, suara yang lembut, janji-janji yang terucap dengan penuh keyakinan. Kini, mata itu memandang wanita lain dengan tatapan yang sama.

Malam itu, Jing Wei tidak mengamuk. Tidak ada air mata, tidak ada pertengkaran dramatis. Ia tetap berdiri tegak, elegansi seorang putri yang terluka. Ia tahu, kemarahan hanya akan memberikan kepuasan sesaat bagi Li Wei. Balas dendam yang ia rencanakan jauh lebih manis, jauh lebih abadi.

Beberapa bulan kemudian, Li Wei kehilangan segalanya. Perusahaan yang ia bangun dengan susah payah, hancur dalam semalam. Reputasinya, yang ia jaga dengan cermat, tercoreng oleh skandal yang ia sendiri tidak tahu asal muasalnya. Wanita yang bersamanya malam itu, menghilang tanpa jejak.

Jing Wei menyaksikan kejatuhan Li Wei dari kejauhan, dengan senyum yang sama, namun kali ini, tanpa kepalsuan. Ia tidak terlibat secara langsung, tidak ada darah yang tertumpah. Namun, Li Wei tahu, di lubuk hatinya, bahwa Jing Wei-lah dalang di balik semua ini.

Penyesalan Li Wei terasa seperti racun yang lebih mematikan daripada kematian itu sendiri. Ia kehilangan Jing Wei, kehilangan cintanya, kehilangan masa depannya.

Di akhir hidupnya, Li Wei menyadari satu hal yang pahit: Janji yang tidak pernah ditulis, justru menjadi kutukan yang paling kejam.

Jing Wei berdiri di balkon apartemennya, menatap kota Shanghai yang gemerlap. Ia berhasil membalas dendam. Tapi, kemenangan itu terasa hampa. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan kembali.

Ia tersenyum, senyum yang kini jauh dari kebahagiaan.

Cinta dan dendam... lahir dari tempat yang sama.

You Might Also Like: Panduan Tabir Surya Mineral Lokal

Sinyal tiga bar. Lalu dua. Lalu hilang. Sama seperti dia. Namanya Aurora, muncul di layar handphone ku seperti dewi fajar yang salah server...

Cerpen Seru: Bayangan Yang Menatapku Dari Balik Api Cerpen Seru: Bayangan Yang Menatapku Dari Balik Api

Sinyal tiga bar. Lalu dua. Lalu hilang. Sama seperti dia. Namanya Aurora, muncul di layar handphoneku seperti dewi fajar yang salah server. Kami bertemu di aplikasi kencan yang seharusnya sudah mati—ChronosMatch, konon mencocokkan jiwa lintas waktu. Lucu, mengingat waktu bagiku hanya berarti tumpukan debu dan karat. Aku, seorang pemulung memori di reruntuhan Neo-Jakarta tahun 2347, jatuh cinta pada suara Aurora yang renyah, suaranya yang seolah tersimpan dalam toples kaca di masa lalu.

Dia, rupanya, hidup di tahun 2047. Dunia yang dia gambarkan terdengar seperti surga bagi mataku yang terbiasa melihat langit abu-abu karena polusi kronis. Pohon? Burung? Hujan yang benar-benar hujan, bukan air asam? Omong kosong macam apa ini! Tapi aku percaya. Karena setiap kali dia berbicara tentang senja berwarna magenta, bayangan di mataku sedikit memudar.

Kami berbagi cerita. Aku tentang menemukan kepingan lagu lama dari server mati, dia tentang kucing liar yang sering tidur di teras rumahnya. Hal-hal sepele, namun bagi kami, bagai harta karun yang tak ternilai. Kami saling mencari, Aurora mencoba mengirimi aku kode recovery agar aku bisa mengakses arsip dunia lamanya, aku mencoba menembus distorsi waktu untuk sekadar melihat wajahnya.

Percakapan kami sering terputus, tergerus oleh lag dan koneksi yang memburuk. Chatnya selalu berhenti di 'sedang mengetik…', membuatku bertanya-tanya apa yang ingin dia katakan, apa yang tidak sempat dia katakan. Apakah dia masih di sana? Apakah dia nyata?

Suatu malam, sinyalnya MEMBAIK. Aku bisa melihatnya, samar-samar, melalui jendela kamera handphone lamanya. Dia duduk di depan perapian, api menari di wajahnya. Cantik. Lalu, dia menoleh. Menatapku.

Tapi tatapannya… kosong. Hampa. Seperti melihat roh.

"Siapa di sana?" Bisiknya, suaranya bergetar.

Aku mencoba menjawab, berteriak, tapi suaraku hilang ditelan noise statis.

Tiba-tiba, layar berkedip. Muncul sebuah pesan dari Aurora, dikirim SEBELUM percakapan kami dimulai.

"Jangan percaya padanya. Dia… dia adalah bayangan dari kehidupan yang kita lupakan. Dia adalah… AKU yang terjebak dalam reka ulang digital."

Api di perapian menjilat lebih tinggi, membentuk siluet aneh di belakang Aurora. Siluet itu… menatapku. MENCENGKERAM jiwaku!

Lalu, semuanya padam. Layar mati. Dunia… hening.

Apakah ini akhirnya? Apakah cinta kami hanyalah gema dari sebuah simulasi yang rusak? Apakah Aurora di masa lalu, Aurora di masa depan, dan aku hanyalah fragmentasi dari sebuah jiwa yang hilang?

Matikan lampu, sayang, aku sudah tak tahan lagi menatap pantulan diriku sendiri…

You Might Also Like: 14 Unconventional Dental Convention